Bunaken.Co.Id-Musikal Negeri Bitung yang dipentaskan di malam puncak Festival Pesona Selat Lembeh beberapa waktu lalu nyatanya sedikit merubah paradigma orang-orang akan sebuah festival.
Drama Musikal yang dikemas begitu epic dengan perpaduan aransemen musik yang membawa penonton masuk disetiap adegannya, nyatanya masih menghipnotis beberapa orang untuk mengetahui siapa maestro dibalik setiap lagunya.
Dia adalah Jacq Lawalata. Ketika dijumpai dan dimintai keterangan, pria kelahiran Kota Manado ini menjelaskan ini adalah pengalaman pertamanya yang menggarap 26 buah dalam jangka waktu yang tergolong singkat.
“Saya tidak memilih 26 lagu, kalau bisa hanya dua lagu kenapa tidak? Cuma dari naskah Musikal Negeri Bitung, keluar 26 script dari setiap babak dan adegan, dan ini harus dibuat menjadi lagu. Script yang sudah ditulis lirik-liriknya kemudian saya yang membuat notasi serta arangsemennya,” ujar Jaqc, Senin (19/10/2020) bertempat di Rumah Kreatif North Celebes Creative Lab.
Untuk prosesnya sendiri tambah Jacq, memakan waktu kurang lebih tiga minggu, dari awal mencari notasi, arangsemen, dan proses rekaman.
Dintanyai mengenai genre yang diangkat, dalam Musikal Negeri Bitung ini dimasukan beberapa gere seperti, pop, rock, blues, jazz, serta tradisional.
“Semua genre yang ada dasarnya dari script, misalnya ada mengenai pasukan dan peran, saya buat rock campur unsur orchestra. Dan juga karena ini mengenai tradisi, mengenai budaya, pastinya pakai unsur-unsur tradisional seperti alat musik tradisional, Kolintang, tetenkoren, bahkan ada oli-oli kalau didaerah Banding biasa di sebut Karinding. Kita coba kemas untuk Musikal Negeri Bitung temanya lebih ke Pop, dalam artian musik yang cukup populer, karena ini akan membawa pesan-pesan dari cerita musikal ini lebih ringan bagi para milenial, dan cepat diingat, cepat nyangkut dimemori orang,” jelasnya sambil menyeruput kopi.
Lanjutnya, untuk proses rekaman sendiri menghabiskan waktu seminggu, karena pada saat itu menurut Jacq dengan waktu yang begitu singkat mereka hanya menggunakan fasilitas kantor yang disulap menjadi studio yang dipakai sehabis jam kerja.
“Kendala yang paling utama ialah waktu dan kita pada masa rekaman rata-rata setiap hari selalu pulang besok,” tambahnya lagi sambil tersenyum.
Dirinya juga berharap lagu yang disajikan dalam Musikal Negeri Bitung bisa dikenal, dan juga ini menjadi cikal bakal orang lebih tertarik dan mengenal Musikal.
“Karena di Sulawesi Utara mungkin ini yang pertama dibuat Musikal seperti ini, dimana lagu-lagu nya semua dikemas dengan serius dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,” pungkasnya lagi.(Cal)

Tinggalkan Balasan