TONDANO, Bunaken.co.id – Geliat pesta demokrasi tingkat desa di Kabupaten Minahasa tengah mencapai puncaknya.
Dari 129 desa yang bersiap menggelar Pemilihan Hukum Tua (Pilhut), Desa Touliang Oki di Kecamatan Eris mendadak jadi sorotan. Bukan hanya karena statusnya sebagai sentra industri mebel, tapi karena profil para kandidatnya yang bukan sembarang orang.
Suasana pendaftaran yang berlangsung beberapa hari lalu terasa begitu semarak. Tabuhan musik dan iringan tim kabasaran yang gagah mengawal para calon, menciptakan atmosfer budaya yang kental sekaligus penuh semangat kekeluargaan.
Panitia pemilihan desa secara resmi mengonfirmasi tiga nama besar yang akan bertarung memperebutkan kursi nomor satu di desa tersebut yakni Djolly Sualang, SH, MH sang akademisi dan praktisi hukum.

Pensiunan dosen Fakultas Hukum Unsrat ini membawa bekal pengalaman mumpuni, termasuk perannya sebagai Sekretaris Yayasan GMIM AZR Wenas. Jejak kepemimpinannya makin kuat dengan dukungan sang istri, Greity Kawilarang, yang merupakan mantan Hukum Tua setempat.
Noufi Karamoy, S.Th, M.Pd: tokoh spiritual sekaligus pendidik. Sebagai Pendeta pelayanan GMIM dan mantan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Manado, Noufi membawa wibawa pendidikan dan kerohanian dalam kontestasi ini.
Selanjutnya ada Jeane Pakasi, S.Pd (Incumbent): sang petahana yang tengah membidik periode ketiganya. Pengalamannya memimpin Touliang Oki menjadi modal utama dalam mempertahankan kepercayaan masyarakat.
Meski persaingan terasa sengit dengan basis pendukung yang militan, Ketua Panitia, Ronny Owu, memberikan pesan tegas saat menerima berkas pendaftaran.
“Kami berharap para calon dan pendukung tidak terjebak dalam aksi saling sindir. Warga Touliang Oki sudah dewasa dalam berpolitik. Pilihan boleh berbeda, tapi persaudaraan tetap yang utama,” ujar Owu dengan nada penuh harap.
Hal senada diungkapkan oleh tokoh masyarakat, Moody Karamoy. Ia menekankan bahwa siapapun yang menang, dialah putra-putri terbaik desa yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.
“Kita semua adalah keluarga. Pilhut yang aman, jujur, dan adil adalah kemenangan sejati bagi desa kami,” tuturnya.
Antusiasme warga Minahasa memang tidak main-main. Mengingat Pilhut hanya digelar delapan tahun sekali, ajang ini bukan sekadar urusan politik, melainkan momen kebersamaan yang sangat dinantikan.
Kini, bola panas ada di tangan warga. Apakah mereka akan memilih nakhoda baru dengan latar belakang akademisi atau pendidik, atau tetap setia pada kepemimpinan petahana?
Yang pasti, Desa Touliang Oki siap menjadi contoh bagaimana demokrasi tingkat desa bisa berjalan harmonis, sehangat pahatan kayu mebel kebanggaan mereka.
(Hence Karamoy)

Tinggalkan Balasan