Bitung, Bunaken.Co.Id-Suksesnya Pementasan Drama Musikal Negeri Bitung di malam puncak penutupan Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) tentunya tidak lepas dari tangan dingin beberapa pihak seperti para aktor, sutradara, tim produksi, musik director, penulis naskah dan lain-lainnya.
Pementasan teater yang mengambil genre musikal yang dipentaskan di Gelanggang Olahraga (GOR) Kota Bitung, Sabtu (17/10/2020) nampaknya menarik perhatian dari berbagai kalangan dengan konsep live streaming nya.
Sang penulis naskah Drama Musikal Negeri Bitung Satria Akbar ketika dimintai keterangan menjelaskan awal ide dan riset dari naskah ini memakan waktu kurang lebih 6 – 7 bulan sedangkan finishing naskahnya empat hari.

Lelaki asal Kota Bandung ini menjelaskan ide dari naskah sendiri bermula ketika pertama dirinya bermukim di Bitung merasa kesulitan menemukan literatur tentang sejarah Kota Bitung.
“Ada, tapi harus cukup bekerja keras menemukan literatur, dan ternyata ketika bertanya kepada teman-teman, rekan-rekan, anak-anak muda disini kesulitan yang sama pun dirasakan, sehingga terpikirkan sebuah gagasan untuk mencoba menuturkan sejarah Kota Bitung dalam bahasa yang populis yang mudah agar setidaknya bisa dijadikan sebuah referensi dan pengetahuan bagi seluruh masyarakat Kota Bitung tentang kotanya,” jelasnya ketika dimintai keterangan yang bertempat di North Celebes Creative Lab, Minggu (18/10/2020).
Menurut Satria, ketika orang tau dan paham identitas kota muncul, rasa kebanggaanpun muncul dan nilai-nilai positif lainnya pasti akan berkembang.
Ditanyai kenapa lebih memilih konsep musikal, Satria melihat potensi terhadap musik di Kota Bitung yang sangat tinggi, terutama banyaknya teman-teman muda Satria yang secara musikalitas baik, serta memiliki kemampuan vocal dikarenakan choir disini sangat mengakar kemudian menciptakan banyak musisi-musisi.
“Nah, sumber daya itu lebih melimpah daripada aktor yang ada di Kota Bitung. Sehingga saya memutuskan lebih baik memilih untuk tahap yang pertama ini bentuknya musikal,” ujarnya.
Lanjut Satria ketika ditanya mengenai kesulitan saat menulis naskah, dalam penulisannya sendiri dirinya melibatkan teman-teman disekitarnya yang memiliki pengetahuan yang mumpuni, dan ketika draft naskah keluar, dirinya mengundang beberapa sejarawan, beberapa ahli budaya, beberapa orang ahli arsip untuk melakukan workshop yang kemudian membedah naskah secara bersama untuk menajamkan fakta-fakta sejarah yang ada, sedangkan beberapa hal yang sifatnya masih abu-abu dihilangkan terlebih dahulu.
“Karena banyak teman-teman yang membantu sebetulnya tidak ada kesulitan yang terlalu berat untuk menyusun naskah,” lanjutnya.
Pekerjaan Rumah selanjutnya menurut Satria, adalah membuat naskah ini seringan mungkin.
Ini dikarenakan targetnya adalah masyarakat awam, bukan hanya para pecinta teater yang berat.
Dan bagaimana kekuatan naskah ini bisa diadopsi menjadi lirik-lirik yang bisa disampaikan oleh lagu-lagu yang menarik serta bagus.
“Harapannya adalah lagunya menjadi terngiang-ngiang dan mudah dihafal dan orang mulai memaknai lirik itu dan mengerti rincian perjalanan sejarah Kota Bitung,” harap Satria.
Untuk rencana kedepan dirinya berencana Musikal Negeri Bitung ini akan dibuat sekuel.
“Tapi sebelum sekuel tentu yang ingin kita lakukan setahun kedepan ini adalah melakukan pementasan-pementasan yang lebih banyak, dan karya kemarin yang kita tampilkan ingin lebih disempurnakan dalam segi aransemen mungkin ada beberapa revisi minor terhadap titik-titik peradegan, mengenai teknik-teknik keaktoran, penyutradaraan itu akan terus kita sempurnakan dan ingin kita touring kan dulu sebelum kemudian mulai ada naskah-naskah berikut,” ucapnya.
Satria cs juga bercita-cita Musikal Negeri Bitung ini dapat dipertunjukkan rutin di Kota Bitung.
Harapannya makin banyak masyarakat Kota Bitung yang dapat mengapresiasi. Ini juga bisa menjadi salah satu lahan bagi para seniman untuk berkarya secara rutin dan bisa jadi pariwisata dimana wisatawan bisa datang untuk menonton rutin,” harapnya.
Dari penjelasan Satria direncakan beberapa bulan kedepan Musikal Negeri Bitung akan melakukan touring mulai ke beberapa kota, bermula dari kota-kota di Sulawesi Utara
“Tapi tidak hanya dipentaskan, dalam touring ini kita akan melakukan workshop sederhana tentang proses kreatif, membuat sebuah seni peertunjukan yang harapannya agar banyak komunitas-komunitas di daerah lain di Sulawesi Utara bertumbuh dan berkembang secara bersama sama,” tambah Satria.
“Setelah Sulut kami juga berharap bisa touring di beberapa kota-kota besar di Indonesia bahkan beberapa Kota Besar diluar Indonesia yang tentunya, perlu adanya adaptasi naskah menjadi bahasa Inggris ini kemudia yang sedang kita pikirkan dan kerjakan.” Pungkasnya. (Cal)

Tinggalkan Balasan