Bitung, Bunaken.Co.Id-Malam Puncak Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) 2020 sukses digelar, bertempat di Gelanggang Olahraga (GOR) Kota Bitung, Sabtu (17/10/2020) malam.

Pementasan Drama Musikal Negeri Bitung menjadi penanda berakhirnya FPSL 2020 yang sebelumnya dibuka pada tanggal 17 September 2020 yang lalu.

B11
Foto: Sekretaris Daerah Kota Bitung Audy Pangemanan yang juga selaku ketua panitia FPSL 2020 saat membawakan laporan panitia

Sekretaris Daerah Kota Bitung Audy Pengemanan yang juga selaku Ketua panitia FPSL 2020 dalam sambungnya menyampaikan pemerintah telah mengangkat pegelarangan FPSL ini secara profesional, bukan sekedar perhelatan atau ivent pariwisata yang mengangkat dimensi ritual bagi masyarakat perikanan, tetapi juga menghadirkan aspek seni pertunjukan dan entertainment.

“Tujuannya untuk membangun citra dan memperkenalkan pesona wisata Kota Bitung bagi seluruh masyarakat lokal, Indonesia, maupun di dunia,” ucapnya.

Dirinya juga menjelaskan FPSL kini telah menjadi identitas bagi warga Kota Bitung dan masuk sebagai top 100 kalender iven pariwisata nasional, yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

“Seperti halnya festival-festival besar di negara lain yang telah terkonsisten diselenggarakan maka pemerintah Kota Bitung berharap FPSL dapat terus terlaksana dan menjadi brand serta kebanggaan Kota Bitung dimasa depan, aktivitas FPSL diharapkan mampu mengangkat perekonomian daerah, serta menjadi sumber inspirasi dan kebahagiaan bagi seluruh masyarakat Kota,” harap Pangemanan.

Pangeman juga menambahkan, walaupun pelaksanaan FPSL tahun ini menghadapi tantangan yang luar biasa berat dengan adanya badai pandemi Covid-19 yang sempat menyebabkan FPSL 2020 terancam batal, dilihat dengan adanya kebijakan umum revitisi anggaran pemerintah pada semua level dari pusat sampai ke daerah yang hampir mustahil melaksanakan FPSL ditahun ini melihat terbatasnya anggaran Kota.

“Namun kita patut bersyukur, karena disituasi yang serba sulit ini, berkat bantuan banyak pihak antara lain juga dari Kemenparekraf RI, FPSL tahun ini dapat terlaksana. Bukam hanya itu saja, kesiapan anggaran yang terbatas ternyata mampu dioptimalkan dengan semangat dari semua panitia pelaksana dan spirit anak-anak muda di Kota Bitung yang sangat kita cintai, maka apapun tantangannya FPSL harus tetap kita gelar baik secara offlineaupun secara online,” jelasnya.

Menurut Pangeman ini adalah pelajaran berharga disituasi pandemi, dimana situasi ini telah memaksa setiap aspek untuk melakukan pembaharuan dan cara-cara baru diberbagai sendi kehidupan.

“Pemerintah Kota Bitung berupaya sekuat tenaga untuk melakukan festival meskipun dengan cara yang tidak biasa, namun sarat kreatif seluruh kegiatan yang bersifat offline telah dilaksanakan dengan penerapan Protokol kesehatan yang sangat-sangat ketat. Meskipun kehadiran fisik berkurang namun secara virtual menjangkau lebih luas dari sebelumnya, dengan demikian kita telah membangkitkan optimistme bahwa FPSL saat ini dan masa depan tetap akan ada.” Tutur Pangemanan.

Hal senada juga disampaikan Pjs. Walikota Bitung Edison Humiang dalam sambutannya yang menjelaskan bahwa FPSL adalah iven yang berasal ditengah masyarakat sebagai tradisi yang menggambarkan tentang nilai kehidupan yang berdasarkan ucapan syukur kepada Tuhan atas anugerah yang diperoleh serta dapat dikelola sumber daya alam yang tersedia di Kota Bitung.

Foto (istimewa/Marco Rompis) Pjs. Walikota Bitung saat membawa sambutan di malam puncak FPSL 2020

“Melihat nilai tradisi itu dan menjadi kesadaran bahwa tradisi menjadi penunjang pariwisata. Saya selaku pemerintah menyampaikan terima kasih kepada, Kemenparekraf RI yang sudah menopang FPSL ini, jika tidak maka kegiatan ini tidak terlaksana,” ujar Humiang.

Selain tradisi lanjut Humiang, kegiatan ini juga dapat meningkatkan sektor pariwisata di Kota Bitung.

“Walaupun ditantang oleh Covid-19 dan segala keterbatasan anggaran, pemerintah didukung oleh segenap insan kreatif di Kota Bitung dan tetap berupaya agar FPSL 2020 dapat digelar meskipun harus mengikuti protokol kesehatan dan inilah wujud dari kreativitas kita semua, semangat optimisme sehingga tiba di malam puncak FPSL 2020 yang begitu megah sang bernilai historis,” lanjutnya.

Hari ini menurut Humiang, Kota Bitung kembali menunjukkan potensi dan pesonanya walaupun dibatasi secara tatap muka tapi dapat menjangkau seluruh masyarakat bahkan wisatawan untuk melihat betapa indahnya pesona permata tersembunyi diujung Utara Pulau Sulawesi dengan adanya siaran langsung di platform media sosial.

“Saya berharap jejak digital yang kita tampilkan dimalam puncak FPSL 2020 menjadi undangan terbuka sehingga setelah pandemi berakhir mereka akan datang ke Kota ini untuk membawah pergerakan ekonomi dari sektor pariwisata dan berdampak pada terciptanya kesejahteraan ekonomi masyarakat Kota Bitung,” Pungkas Pjs. Walikota Bitung ini.

Seperti diketahui pembukaan FPSL 2020 pada 17 September 2020 diawali dengan berbagai macam pelatihan, gerakan pemeliharaan, serta konservasi lingkungan di kawasan Desa Wisata Batu Angus yang merupakan kerjasama dari Balai Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Sulawesi Utara yang output nya antara lain membuka secara bertahap destinasi wisata Batu Angus yang berpedoman pada protokol kesehatan dan penerapan adaptasi kebiasaan baru.

Sedangkan pada 10 Oktober 2020 Upacara Peringatan HUT Kota dan Sidang Paripurna diselenggarakan secara terbatas dan virtual yang pertama kalinya disiarkan secara langsung pada berbagai platform media Sosial dan bisa disaksikan oleh warga Kota Bitung dimanapun berada.

Sementara pelaksanaan Sailing Pass atau Parade Kapal yang menjadi ciri khas FPSL hanya diselenggarakan secara simbolis diikuti oleh 3 buah kapal yang biasannya diikuti ribuan kapal yang ada di Kota Bitung.

Serta pada 11 Oktober 2020 dilaksanakan pengucapan syukur secara mandiri di rumah-rumah warga tanpa mengundang sanak saudara dan tidak ada open house. Kegiatan pengucapan juga dilakukan secara virtual melalui Live streaming, di 8 media Kecamatan dilaporkan secara langsung dimedia Sosial. (Cal)