Jakarta. Bunaken.co.id.- Di buka lowongan kerja untuk fresh graduation dengan syarat sebagai berikut : “pengalaman minimal 2 tahun”, “usia maksimal 25 tahun”, “good loocking” dan “bisa menguasai 10 keahlian sekaligus”.

Lulusan baru yang baru saja lulus menempuh pendidikan terakhirnya di hadapkaan dengan syarat penerimaan lowongan kerja yang begitu berat. Apakah lowongan tersebut hanya di peruntukan untuk yang sudah jauh berpengalaman ? lalu bagaimana nasib mereka yang baru lulus dengan gelar atau pendidikan terakhir yang mereka telah lalui bertahun – tahun?
Setelah menempuh pendidikan yang cukup lama, banyak lulusan baru terjun ke dunia kerja dengan harapan besar membangun masa depan, meraih kemandirian, dan mengubah nasib keluarganya. Namun, kenyataan sering kali berbeda. Alih-alih makin semangat, banyak lulusan baru justru merasa kurang mumpuni, dan takut gagal sejak awal. Ini bukan cuma tantangan karier, tapi juga ancaman serius bagi motivasi hidup generasi muda.
“Pengalaman” Jadi Syarat Utama
Pengalaman menjadi momok besar bagi lulusan baru. Kalau semua perusahaan minta pengalaman, di mana mereka bisa dapat pengalaman pertama?
Masalah makin rumit karena banyak perusahaan memasang standar tinggi untuk posisi yang sebenarnya bisa dipelajari dengan cepat. Sementara itu, kesempatan magang atau kerja praktik saat kuliah juga terbatas dan tidak semua mahasiswa bisa mendapatkannya.
Akibatnya, banyak lulusan baru terjebak dalam lingkaran setan “tidak dapat kerja karena belum punya pengalaman, tapi tidak punya pengalaman karena belum diberi kesempatan kerja.
Dampak Psikologis: Dari Ragu Jadi Takut, Dari Takut Jadi Bingung :
Menghadapi standar kerja yang terlalu tinggi di awal karier bisa langsung memengaruhi kesehatan mental dan semangat hidup lulusan baru. Mereka mulai meragukan kemampuan diri, meski sudah lulus dengan nilai baik.
Muncul perasaan “gagal jadi orang”, karena belum dapat pekerjaan walau sudah kuliah bertahun-tahun. Mereka jadi takut mencoba, karena merasa tak pernah cukup. Yang paling parah, mereka kehilangan motivasi hidup, bingung mau ke mana dan harus bagaimana.
Tapi, Harapan Tetap Ada
Kini pemerintah berusaha untuk merelevankan syarat penerimaan kerja salaah satunya Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) melarang perusahaan mencantumkan kriteria atau persyaratan fisik seperti berpenampilan menarik atau good looking dalam syarat lowongan kerja. “Kita berharap mitra industri tidak lagi memberi persyaratan yang berat. Umur akan kita hapus. Syarat good looking juga akan kami hilangkan,” ungkap Immanuel Ebenezer (Wamenaker) dikutip dari Youtube Kementerian Ketenagakerjaan.
Dengan adanya kebijakan dari pemerintah tersebut setidaknya persyaratan yang memberatkan lulusan baru lebih berkurang. Dan bisa menghasilkan secercah cahaya untuk keterima kerja.
Meski jalannya tidak mudah dan penuh rintangan, dunia tidak sepenuhnya tertutup bagi pemula. Justru di tengah tekanan ini, muncul kesempatan untuk membangun mental kuat, kreativitas, dan motivasi hidup yang mandiri.
Berikut beberapa langkah yang bisa jadi titik balik bagi para lulusan baru :
1. Ubah Cara Pandang: Pengalaman Tidak Harus Formal
Pengalaman bukan hanya kerja di perusahaan besar. Proyek pribadi, organisasi kampus, kerja sukarela, atau membantu bisnis keluarga juga bisa jadi pengalaman, asal bisa ditulis dengan baik di CV dan diceritakan dengan percaya diri saat wawancara.
“Pengalaman adalah guru dari semua hal” menurut julius caesar. Setiap pengalaman hidup adalah pelajaran. Yang penting bagaimana kamu memaknainya dan menjelaskannya.
2. Fokus pada Kemajuan, Bukan Tekanan Sosial
Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Fokuslah pada perkembanganmu sendiri, meski lambat dan lelah. Meski belum kerja, kamu bisa belajar hal baru dari ikut kursus online, membuat portofolio, atau mulai usaha kecil-kecilan.
Orang yang terlihat “lebih dulu” belum tentu lebih baik. Semua punya waktunya masing-masing.
Ingat “Semua ada waktunya, Jangan membandingkan hidupmu dengan orang lain. Tidak ada perbandingan antara matahari dan bulan, mereka bersinar saat waktunya tiba” – Bj. Habibie
3. Ciptakan Peluang, Jangan Hanya Menunggu
Kalau belum ada yang membuka pintu, buatlah pintu sendiri. Dunia digital memberi banyak kesempatan. kamu bisa jual jasa online, buat konten edukasi, jadi freelancer, atau kerja sama dengan teman.
Motivasi hidup tumbuh saat kamu merasa mengendalikan hidupmu, sekecil apa pun itu.
4. Cari Perusahaan yang Menghargai Potensimu
Tidak semua perusahaan kaku dan sulit. Banyak startup, NGO, dan perusahaan progresif yang menilai potensi dan karakter, bukan hanya angka di CV. Cari lingkungan kerja yang mendukung pertumbuhan, bukan yang menuntut sempurna sejak awal.
5. Suara Kita Penting : Dorong Perubahan Sistem
Kita butuh lebih banyak suara anak muda yang menyuarakan ketidakadilan sistem rekrutmen yang tidak masuk akal. Lewat media sosial, komunitas, dan organisasi, generasi muda bisa mendorong perubahan supaya rekrutmen jadi lebih adil dan ramah bagi pemula.
Mengeluh boleh, tapi mengubah lebih mulia.
Penutup: Kamu Bukan Gagal, Kamu Baru Memulai
Jika kamu lulusan baru yang sedang terhambat oleh syarat kerja yang berat, ingatlah: kamu bukan gagal, tapi kamu baru mulai. Dunia kerja memang penuh tantangan, tapi kamu punya sesuatu yang sistem tak bisa tentukan: semangat, ketahanan, dan harapan.
Motivasi hidup bukan dari seberapa cepat kamu sukses, tapi dari seberapa berani kamu bangkit, belajar, dan terus maju, meski jalannya berbeda.
Dunia mungkin lambat membuka pintu, tapi kamu selalu bisa membangun jalanmu sendiri. Di situlah motivasi sejati tumbuh: dari keberanian untuk terus mencoba, bukan dari cepatnya hasil.
Sumber :
Apa itu ketakutan dalam psikologi / Emosi | Psikologi, filsafat dan pemikiran tentang kehidupan.
Kemnaker Larang Ada ‘Good Looking’ dan Batasan Usia dalam Syarat Bekerja
Arti Fresh Graduate dan Pekerjaan untuk yang Baru Lulus

Penulis : Dimas Septyawan Mahasiswa Jurnalistik semester IV Politeknik Negeri Jakarta

Tinggalkan Balasan