MANADO, Bunaken.co.id – Genap satu tahun sudah duet kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay nakhodai Sulawesi Utara sejak dilantik pada 20 Februari 2025 lalu. Meski masa satu tahun dianggap relatif singkat untuk memberikan penilaian menyeluruh, pengamat politik dan pemerintahan kenamaan, Taufik Manuel Tumbelaka, memberikan “catatan kecil” yang cukup menohok.

Tumbelaka menyoroti adanya defisit kepemimpinan dan manajemen organisasi yang berujung pada setidaknya empat kejadian yang dikategorikan sebagai tindakan blunder.

4 Catatan Merah dalam Satu Tahun Terakhir

Dalam analisisnya, Tumbelaka membedah empat peristiwa krusial yang dianggap mencoreng citra pemerintahan Yulius-Victor:

Kegagalan Rute Manado-Toraja: Program penerbangan yang dicanangkan dengan penuh gegap gempita ini harus kandas bahkan sebelum mencapai lima kali penerbangan. Sebuah ironi bagi perencanaan kebijakan publik yang matang.

Polemik Pajak Kendaraan Bermotor: Ketidaksiapan regulasi memaksa Gubernur turun tangan langsung melakukan revisi setelah mendapat reaksi publik. Ini menunjukkan adanya kelemahan dalam kajian Capita Selekta Pemerintahan.

Absensi di Pengukuhan MUI Sulut: Tidak adanya perwakilan Pemprov dalam acara yang dihadiri MUI Pusat ini menjadi tanda tanya besar dalam komunikasi politik antar lembaga keagamaan.

Kontroversi RTRW di DPRD: Penetapan RTRW yang memicu gelombang unjuk rasa. Tumbelaka menyoroti mampetnya saluran aspirasi, di mana surat masyarakat kepada Ketua DPRD tidak mendapat respons yang jelas.

Ancaman “Asumsi Liar” Jika Tanpa Evaluasi

Tumbelaka memperingatkan bahwa jika Gubernur dan Wakil Gubernur tidak segera melakukan evaluasi serius terhadap tim kerja dan pola pengambilan keputusan, maka kredibilitas mereka akan dipertaruhkan. 

Ia menyebut ada tiga asumsi liar yang berpotensi muncul di tengah masyarakat:

Masukan Sesat: Anggapan bahwa pimpinan daerah sedang “dipecundangi” oleh pembisik atau pemberi masukan yang tidak kompeten.

Buta Huruf Pemerintahan: Munculnya persepsi bahwa duet ini tidak memahami anatomi politik dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Penikmat Jabatan: Tuduhan bahwa kepemimpinan saat ini tidak peduli pada kemajuan daerah dan hanya sekadar menikmati fasilitas kekuasaan.

“Semoga catatan ini bisa dicermati dan dimaknai serta diresapi oleh Duet Pemimpin Sulut, Yulius-Victor dengan bijak serta arif,” pungkas Tumbelaka. (Jerry)