Manado. Bunaken.co.id.- Tim Teknis Polimdo Manado, baru baru ini mengevaluasi visual kondisi fisik bangunan gedung Gereja GMIM Syaloom Karombasan Manado.

Tim Polimdo yang terdiri dari Ir. Julius E. Tenda, MT, Ferry Sondakh, ST.MT, Dr. Ir. Denny B. Pinasang, SST, MT, Vicky Alexander Assa, SST, MT dan Berty Slat, ST, MT saat kunjungan diterima langsung oleh paniti pembangunan gedung Gereja GMIM Syaloom di Kartombasan.

Dari hasil evaliasi antara lain, kondisi fisik bangunan Gedung gereja GMIM Syaloom Karombasan Manado masih dalam tahap penyelesaian pekerjaan struktur atas yakni elemen struktur kolom, balok dan pelat serta komponen arsitekturnya dimana pekerjaannya terhenti sampai pada lantai 5. Bangunan yang sudah diselesaikan dan difungsikan sampai pada lantai 4 sedangkan pada lantai 5 belum dapat difungsikan karena masih dalam tahap pengerjaan struktur dimana pada beberapa bagian pekerjaan struktur yakni kolom dan balok di area tangga serta beberapa bagian pelat kantilever belum dicor sehingga tulangan yang terpasang mengalami terpaan cuaca hujan dan panas sejak tahun 2016 kurang lebih 8 tahun.

Hal ini tentu berdampak pada fungsinya sebagai salah satu unsur material konstitutif. Karena itu diperluakan pemeriksaan kelayakan dari unsur tulangan tersebut sebagai rujukan dalam tindakan pekerjaan selanjutnya.

Berdasarkan permintaan tim pengelola Pembangunan Gedung kepada Tim Teknis dari Politeknik Negeri Manado, maka pada tanggal 1 Juli 2024 telah dilakukan survey untuk selanjutnya melahirkan rekomendasi agar dapat dijadikan acuan dalam pekerjaan lanjutan.

Terkait dengan pengamatan kondisi fisik bangunan difokuskan pada lantai 5 yakni, tulangan yang sudah terpasang selama 8 tahun terkena cuaca hujan dan panas, setelah diamati langsung kondisi fisik tulangan belum mengalami kerusakan akibat korosi.

Untuk pengecoran kolom diamati dalam kondisi baik tetapi pada beberapa bagian pengecoran balok terdapat kesalahan pengerjaan yakni terjadi keropos akibat kurang dilakukan pemadatan saat pengecoran dengan alat vibrator.

Sedangkan untuk pada area lantai terjadi genangan air hujan dan akibat genangan tersebut terjadi rembesan pada tingkat dibawahnya dengan merusak plafond. Dan untuk bagian dinding belum dipasang sehingga menyebabkan air hujan bebas masuk dia area plat lantai dan terjadi genangan air.

Hasil Evaluasi Dan Rekomendasi antara lain,

1. Tulangan yang telah dipasang selama 8 tahun, secara fisik masih dapat digunakan. Beberapa alasan teknis yakni :

1a. Karena pada tulangan tersebut belum terjadi korosi hanya terjadi perubahan warna menjadi agak kehitaman.

1b. Ketersediaan tulangan kolom 24 D 19 = 6800 mm2, dengan ukuran kolom 500 mm x 500 mm maka rasio tulangannya 2,27 % lebih besar dari syarat minimum tulangan 1 %.

2. Berdasarkan poin (a) diatas, maka rencana pekerjaan lanjutan penambahan struktur lantai 6 dan 7 dapat dikerjakan.

3. Untuk menghindari terjadinya genangan air pada area pelat lantai sebaiknya segera dilakukan proteksi terhadap air hujan (tampias) yakni dengan melakukan pemasangan dinding sesuai gambar rencana. Hal ini dimaksudkan agar akibat genangan air tersebut tidak akan mempengaruhi kondisi elemen struktur dan arsitektur yang lebih parah.

4. Pekerjaan pengecoran diupayakan menggunakan mutu beton K-300 melalui jasa penyedia beton siap pakai (jangan lakukan pencampuran secara manual).

5. Proses pengecoran beton harus menggunakan alat vibrator agar tidak terjadi keropos.

6. Pada balok yang telah terjadi keropos agar dilakukan perbaikan dengan cara grouting dengan pasta semen.

7. Pada area pelat yang terjadi genangan air agar dilakukan pembersihan dari lumut terlebih dahulu kemudian dilakukan plesteran lantai (sebaiknya gunakan alat sikat besi).

Demikian hasil evaluasi dan rekomendasi ini semoga dapat digunakan sebagai acuan untuk pelaksanaan pekerjaan selanjutnya.