PROVINSI SULAWESI UTARA
Oleh:
JONGKY WA KAMAGI
bagian ke tiga :
Bentuk pertumbuhan dari karang yang diamati pada daerah penyelaman Fukui adalah jenis Branching atau bercabang adalah 6 atau 30%, jenis Boulder atau bongkahan 12 atau 60% dan karang jenis Plate adalah 2 atau 10%. Dalam pengamatan Jenis pertumbuhan yang terbanyak pada daerah penyelaman Fukui adalah bentuk pertumbuhan Branching atau bercabang yaitu sebesar 50%.

Gambar 6. Grafik Lingkaran Kesehatan Karang Daerah Penyelaman Fukui
Berdasarkan Bentuk Pertumbuhan.
Secara keseluruhan pengamatan kesehatan karang dengan menggunakan Coralwatch Chart pada tiga daerah penyelaman di pulau Bunaken yaitu: Pagalisang, Muka Kampung dan Fukui, nilai yang tertinggi yaitu pada skala 4 sebanyak 40% dan yang terendah yaitu skala 1 yaitu 2%.
Berdasarkan kategori maka pengamatan kesehatan karang pada ketiga daerah penyelaman di Pulau Bunaken ini adalah dalam kondisi Agak Tidak Sehat.
11asil pengamatan kesehatan karang pada ketiga daerah penyelaman di Pulau Bunaken yang terbanyak adalah jenis Branching atau jenis karang bercabang. Total hasil pengamatan untuk kesehatan karang karang bercabang sebanyak 47%.

Gambar 7. Grafik Lingkaran Total Jenis Karang Berdasarkan Pengamatan
Kesehatan Karang
4.2. Pembahasan
Kategori kesehatan karang dari daerah penyelaman Pangalisang dan Muka Kampung berada pada skala 4 yaitu Agak Tidak Sehat. Secara khusus daerah penyelaman Pangalisang dan Muka Kampung berada dekat dengan pemukiman penduduk yaitu desa Bunaken, selain itu juga daerah penyelaman ini berada dekat dengan mulut sungai Tondano. Meskipun hubungan antara faktor Antropogenik dan penyakit karang belum banyak dipelajari, namun faktor-faktor yang diperkirakan memfasilitasinya adalah Eutrofikasi dan sedimentasi (Johan, 2010).
Menurut Sjafrie (2014), faktor yang mempengaruhi terjadinya pemutuhan atau bleaching yaitu terjadinya perubahan suhu yang ekstrim, intensitas cahaya, salinitas, polutan serta arus perairan yang kecil. Selain bleaching penyakit karang seperti White Syndrome, Black Band Diseas, Brown Band Disease, dapat menyebabkan pemutihan pada karang. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi pada jaringan karang yang mengakibatkan terjadinya perbedaan warna serta hilangnya jaringan pada karang disebabkan oleh bakteri, virus, protozoa atau jamur (Johan, 2010). Faktor lain yang menyebabkan pemutihan pada karang ialah predasi atau pemangsaan. Selain ikan kakatua (parrotfish) dan Damselfish, predator lain yang menyebabkan kerusakan yang signifikan (pemutihan) pada karang adalah organisme Drupella sp dan Acanthaster plancii (Crown of Thorn Starfish). Keberadaan Acantaster pada bagian timur pulau Bunaken sekitar daerah penyelaman Pangalisang juga dilaporkan oleh Tokeshi dan Daud (2011).
Daerah penyelaman Fukui meskipun kategori berada pada skala 3 yaitu cukup sehat, namun Penyakit karang atau Coral Bleaching dipengaruhi oleh perubahan gejala alam seperti La Nina pada tahun 2011. Ampou dkk, 2012 dalam penelitiannya menyatakan bahwa dalam perubahan gejala alam maka keberadaan bakteri gram positif akan lebih dominan. Menurut Luasunaung dkk, 2015 kerusakan karang pada daerah penyelaman Fukui lebih disebabkan oleh karena aktivitas penyelaman, dimana daerah Fukui merupakan tempat yang sering dikunjungi oleh penyelam pemula karena kondisi arus yang tidak kencang.
Untuk menghindari terumbu karang pada daerah penyelaman dari penyakit karang dan pemutihan karang adalah tidak mungkin karena semua ini terjadi oleh karena alam. Monitoring secara berkelanjutan diperlukan untuk menghindari terjadinya kerusakan terumbu karang yang lebih parah. Menurut Johan (2010) Manajemen penyakit pada terumbu karang dapat dilakukan secara tradisional seperti karantina, seleksi, vaksinasi dan pendidikan. Daerah terumbu karang yang terserang penyakit serta bleaching dapat ditutup terhadap aktivitas manusia dengan melarang kegiatan penyelaman dan snorkeling untuk jangka waktu tertentu. Selain itu juga dapat dilakukan pembatasan jumlah pengunjung pada daerah penyelaman yang dianggap sudah mengalami banyak tekanan lingkungan yang mengakibatkan pemutihan dan penyakit karang. Untuk pemutihan karang yang disebabkan oleh predasi dapat dilakukan dengan pembersihan predator karang.
Kelemahan dalam sistematik random sampling ini yaitu ketika titik sampling yang ditemukan adalah karang mati (Dead Coral), karang mati dengan alga (DCA) serta pasir maka secara otomatis surveyor akan mencari karang terdekat untuk diidentifikasi agar titik sampling tidak kosong. Penggunaan sistematik random sampling juga tidak bisa mendapatkan prevalensi kesehatan karang.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan Hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan :
- Kondisi kesehatan terumbu karang di Pulau Bunaken masih cukup baik.
- Pemutihan karang pada daerah penyelaman di pulau Bunaken dapat disebabkan oleh penyakit, bleaching dan juga predasi.
- Pengelolaan daerah penyelaman yang diidentifikasi mengalami penyakit karang yang akut atau pemutihan dapat dilakukan dengan cara karantina, pembatasan pengunjung. Untuk daerah penyelaman yang mengalami outbreak dilakukan pembersihan organisme pemangsa karang.
5.2. Saran
- kegiatan monitoring diperlukan untuk mengetahui seberapa parah terjadinya penyakit karang atau bleaching.
- Kegiatan survey dengan menggunakan transek disarankan agar bisa mengetahui prevalensi atau presentasi jumlah karang yang mengalami penyakit karang atau bleaching
VI. UCAPAN TERIMA KASIH
Kepada ILO dan Direktur Politeknik Negeri Manado Dra. Maryke Alelo, MBA; Bapak Irfan Affandi dan Mary Kent. Dianne Rondonuwu sebagai PIC penelitian ILO Polimdo, Manajer ILO Polimdo Ivoletti Walukow, Tim Penelitian Coastal Environment Bapak Robert Towoliu, Andritsu Polii, Radjab Djamali; serta rekan PIC ILO Polimdo.
DAFTAR PUSTAKA
Ampou EE. Triyulianti I. Nugroho SC. 2012. Analisa Bakteri Pada Karang Scleractinia Berkaitan Dengan Fenomena La Nina di Kawasan Taman Nasional Bunaken. Ecotropic 7(2): 126-130.
Arena P. 2011. Protecting Fish Assemblages on Sunken Vessels to Enhance Diving Ecotourism and Local Natural Resources. In: Micallef, A. (ed.), MCRR3-2010 Conference Proceedings, Journal of Coastal Research, 61: 375-377.
Chung SS, Au A, Qiu JW. 2013. Understanding the Underwater Behaviour of Scuba Divers in Hong Kong. Environmental Management. 51: 824-837
Coralwatch, 2018. Teacher Guide, Measuring Coral Health Using Random Surveys.The University of Queensland. Australia.
Elias W, Kasem A, Khairy N. 2016. Application of Environmental Practices of Diving/Snorkeling in Hurghada Egypt. International Journal of Arts & Sciences. 09 (02): 435–444.
Giglio VJ, Luiz OJ, Schiavetti A. 2016. Recreational Diver Behavior and Contacts with Benthic Organisms in the Abrolhos National Marine Park, Brazil. Journal Environmental Management. 57: 637-648
Johan O. 2010. Penyebab, Dampak, dan Manajemen Penyakit Karang di Ekosistem Terumbu Karang. Media Akuakultur. Vol. 5 no. 2. Jakarta
Kim Y, Kim CK, Lee DK, Lee HW. Andrade RHT. 2019. Quantifying Nature-based Tourism in Protected Areas in Developing Countries by Using Social Big Data. Tourism Management 72: 249–256.
Kurniawan F, Adrianto L, Bengen DG, Prasetyo, LB. 2016. Vulnerability assessment of small islands to tourism: The case of the Marine Tourism Park of the Gili Matra Islands, Indonesia. Global Ecology and Conservation. 6: 308–326.
Levyda L, Marisa Y. 2018. Analisis Daya Tarik Wisata Bahari dengan Pendekatan Supply dan Demand: Studi di Teluk Kiluan. Jurnal Industri Pariwisata 1 (1): 46 -62.
Luasunaung A. Manoppo V. Schaduw JNW. 2015. Monitoring dan Evaluasi Lokasi Penyelaman Taman Nasional Bunaken Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara. Spatial. Wahan Komunikasi dan Informasi Geografi. Vol. 14. No. 2
Lucrezi S, Milanese M, Markantonatou V, Cerranno C, Sara A, Palma M, Saayman M. 2017. Scuba diving tourism systems and sustainability: Perceptions by the scuba diving industry in two Marine Protected Areas. Tourism Management. 59: 385-403
Marpaung H. 2002. Pengetahuan Kepariwisataan. Bandung (ID). Penerbit Alfabeta.
Mill RE. 2000. Tourism. The International Business. Prentice Hall Inc. Edisi Bahasa Indonesia. Penerjemah: Tri Budi Satrio. Jakarta (ID). PT Raja Grafindo Persada.
Mota L. 2016. Using Of Natural Spaces For Tourism Activity Scuba Diving And Impacts On Aquatic Animals. International Journal of Tropical Veterinary Biomedical Research. 1 (1) : 9-20.
Priyanto R, Kristiutami YP, Pirastyo SP. 2018. Strategi Penerapan Konsep Pariwisata Berkelanjutan Dalam Upaya Pelestarian Kawasan Wisata Candi Borobudur. Tourism Scientific Journal. 3 (2): 210-227.
Prior M, Ormond R, Hitchen R, Wormald C. 1995. The Impact on Natural Resources of Activity Tourism: A Case Study of Diving in Egypt. International Journal Environmental Studies. 48: 201-209.
Rudy DG, Mayasari IDAD. 2019. Prinsip-prinsip Kepariwisataan dan Hak Prioritas masyarakat dalam Pengelolaan Pariwisata Berdasarkan Undang-undang No.10 Tahun 2009 Tentang kepariwisataan. KERTHA WICAKSANA: Sarana Komunikasi Dosen dan Mahasiswa. 13 (2): 73 – 84. http://dx.doi.org/10.22225/kw.13.1.929.1-5, diunduh 20 September 2019.
Sjafrie NDM. 2014. Coral Bleaching: Mekanisme Pertahanan Karang Terhadap Stress. Oceana. Vol.XXXIX. No.4: 1-13. LIPI
Tokeshi M. Daud JRP. 2011. Assesing Feeding Electivity in Acanthaster plancii: A Null Model Analysis. Coral Reef 30:227-235.
[UNWTO] United Nation World Tourism Organization. 2011. Unwto annual report, a year of recovery. United Nation World Tourism Organization.
Wiyana A. 2004. Faktor Berpengaruh Terhadap Keberlanjutan Pengelolaan Pesisir Terpadu (P2T). http://rudyct.com/PPS702-ipb/07134/afi_wiyana.htm. Diunduh: 24 Agustus 2019.
Zhang LY, Chung SS, Qiu JW. 2016. Ecological Carrying Capacity Assessment Of Diving Site: A Case Study Mabul Island Malaysia. Journal of Environmental Management 183: 253-259.
Zhang LY, Chung SS. 2015. Assessing the Social Carrying Capacity Of Diving Site in Mabul Island Malaysia. Journal of Environmental Management 56: 1467-1477.

Tinggalkan Balasan