Bitung, Bunaken.Co.Id-Di tahun 1918 di benua Eropa, perupa Amedo Ozenfant dan seorang arsitek Le Corbusier menggagas sebuah teori PURISME yang merupakan reaksi atas gerakan Kubisme yang dipelopori oleh Pablo Picasso.
Gerakan Purisme berasal dari kata “Pure” yang berarti” Murni“, sebuah gerakan yang ingin mengembalikan bentuk geometri dan proporsi dalam estetika seni rupa (Gabriella : 2017).
Gagasan Purisme pun menyeruak dalam kegiatan bincang kreatif bertajuk “Menyadap Kearifan Tulude” yang dilaksanakan pada hari Senin, (18/01/2020) bertempat di ruang tengah North Celebes Creatif Lab (NCCL) Kota Bitung.
Kegiatan yang menghadirkan narasumber Max Galatang dari IKSSAT (Ikatan Kekeluargaan – Sangihe – Sitaro – Talaud) turut dihadiri puluhan penggiat seni dan budaya diantaranya dramawan senior Eric MF Dajoh, Charles Somba, Fey Muris dan beberapa nama lainnya.
Sebagai pengantar, Satria, Creative Producer Senior menawarkan konsepsi semiotik dan heurmenitik sebagai pisau bedah dalam menyadap kearifan Tulude, sebuah perhelatan budaya tahunan masyarakat Sangihe yang kini “dipaksa” bertransformasi dikarenakan situasi pandemi.
“Transformasi budaya yang dilakukan harus dibaca dengan inteprestasi yang tepat atas tanda-tanda yang hadir agar dapat menyampaikan makna yang terkandung dalam rangkaian upacara,” ucapnya.
Sementara itu, Max Galatang yang juga selalu pegiat Nusa Utara Kota Bitung menyampaikan, bahwa Tulude saat ini perlahan telah mengalami perubahan makna.
Dimana menurutnya Tulude dihadapkan dengan “intervensi kepentingan”, yang mengakibatkan lemahnya pengetahuan masyarakat pengampu budaya untuk memahami dan menangkap simbol-simbol yang terkandung dalam ritual ini.
“Suatu kekhawatiran bahwa Tulude akan terjerembab dalam situasi ritual tanpa makna bagi para pelaku budaya nya,” ujarnya.
Hal senada juga disampaikan Charles Somba sebagai penggiat budaya Minahasa menyampaikan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi dalam Tulude semata, namun juga dalam peristiwa-peristiwa budaya lainnya di Sulawesi Utara saat ini.
Sementara itu Dramawan, Eric Dajoh menyerukan agar proses pembacaan dan pemaknaan budaya harus digiatkan dengan menumbuhkan dialog yang intens antara para pelaku budaya senior dan para generasi muda.
Dirinya menambahkan, kebudayaan seyogyanya adalah sebuah proses, dan kondisi dinamis yang selalu berkembang mengikuti zamannya.
“Kebudayaan akan selalu dihadapkan dengan perubahan-perubahan dan pengaruh yang hadir dari berbagai sisi. Ia adalah hasil kolektif dari dialektika dan ekspresi sosial masyarakat pengampunya,” jelasnya.
Dalam diskusi ini juga kehadiran Tulude sendiri menjadi sebuah tanda dan penanda yang menceritakan simbol – simbol masyarakat.
Yang jelas hal in menarik untuk diamati, apakah Tulude dan budaya-budaya lainnya di Sulawesi UTara dapat menemukan “pemurnian” makna pada era modern saat ini? Atau menyerah dan perlahan punah oleh perkembangan zaman. (Cal)

Tinggalkan Balasan