Dekontruksi Untuk Revitalisasi

0
64

Bunaken.Co.Id-

“Tidak ada sesuatu yang lengkap dengan sendirinya. Sesuatu hanya bisa menjadi melalui apa yang kurang. Namun, kekurangan dari setiap hal itu tidak terbatas, kita tidak dapat mengetahui sebelumnya untuk apa pelengkap itu”

JACQUES Derrida

Kutipan Jacques Derrida seorang filsuf Perancis keturunan Algeria tampak cukup relevan untuk kita maknai saat ini. Kini kita dihadapkan dalam sebuah situasi yang dipaksa untuk beradaptasi atas kondisi pandemi yang terjadi.

Pandemi Covid -19 yang telah berlangsung berbulan-bulan ini telah menuntut umat manusia untuk meredifinisikan ulang berbagai hal, termasuk juga kaitannya dengan kerja budaya. Beragam ritual kebudayaan dan perangkat kehidupan dipaksa untuk menemukan pola perubahannya.

Namun apa yang harus manusia lakukan agar semua ritual tersebut tidak kehilangan maknanya?

Dalam ilmu semiotika, Ferdinand de Susure mengemukakan gagasan akan Petanda dan Penanda. Ia menjelaskan bahwa suatu tanda tidak hanya ada dalam bentuk citra namun juga dalam bentuk pemahaman (Cobley : 1997) dalam memaknai, melalui gagasan Susure kita disarankan tidak hanya mengerti tentang sebuah “tanda” yang bersifat materialistik namun juga menyelami konsep pikiran yang terkandung. Esai ini ditulis sebagai refleksi pemikiran atas pola revitalisasi yang tengah dilakukan oleh komunitas NCCL melalui beragam kegiatannya.

 

Pada bulan Januari ini, masyarakat Nusa Utara biasanya sibuk untuk melangsungkan Tulude, sebuah ritus budaya tutup tahun.

Tulude berasal dari kata “Suhude” yang artinya “menolak“. Hal ini dapat dimaknai sebagai kegiatan untuk menolak keburukan di tahun yang lama dan membuka lembaran baru dengan kebaikan di tahun selanjutnya.

Rangkaian proses Tulude Diawali dengan penyambutan pemimpin dan pemberian poporong (topi adat) sebagai simbol penghargaan, doa dan harapan rakyat yang diberikan kepada pemimpinnya untuk memimpin menuju kemakmuran.

Poporong bermakna sebagai “pengikat” yang mengikat beragam fikiran-fikiran dan gagasan isi kepala manusia untuk dapat terarah menuju satu tujuan. Rangkaian dilanjutkan dengan beragam doa dan pembacaan sastra-satra ritual yang diakhiri oleh prosesi jamuan bersama yang menandakan meleburnya diri antara pemimpin dan rakyatnya.

Seperti festival budaya pada umumnya, kegiatan Tulude berfungsi menjadi sebuah ruang publik dimana bertemunya seluruh kepentingan dari berbagai golongan dengan ketiadaan sekat. Tulude membuka hubungan vertikal atara manusia dan tuhannya juga hubungan horizontal antar sesama manusia.

Pada momen pandemi yang terjadi disaat ini, sebuah pertanyaan besar mengemuka?Dapatkan sebuah prosesi yang memiliki beragam tuntunan nilai tersebut tetap dilakukan tanpa harus kehilangan makna?

Tentu menjawab pertanyaan ini bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan pemahaman yang dalam bagi kita untuk melakukan pembacaan atas kondisi budaya yang terjadi.

Dalam pendekatan teori Dekontruksi, kita disajikan sebuah strategi pembacaan dalam membongkar elemen-elemen produk budaya yang kemudian disusun kembali dalam tujuan untuk menciptakan produk budaya yang relevan dengan kondisi kekinian.

Melalui pola ini, Ilmu hermeneutika digunakan secara “radikal” dengan membiasakan pergantian perspektif yang terus menerus sehingga makna “tidak dapat diputuskan”.

Melalui Dekontruksi kita diharapkan dapat menemukan makna dalam “teks” bukan sekedar menghadirkan kembali makna yang asli dari teks. Dengan kata lain bahwa dalam “membongkar” sebuah produk budaya, kita harus dihadapkan dengan kesadaran sejatinya kita dihadapkan pada kondisi dan nilai sosial-budaya yang terjadi di saat ini bukan hanya nilai yang terjadi pada masa lampau.

Kebudayaan dalam arti luas merupakan sebuah ekspresi identitas dari sebuah kelompok masyarakat. NCCL dalam posisinya sebagai bagian dari komunitas masyarakat berupaya untuk berkontribusi dengan melakukan berbagai bentuk pembacaan dan revitalisasi akan beragam ekspresi budaya. Revitalisasi dimaknai sebagai bentuk menggiatkan kembali dengan memberi “energi” baru dalam setiap aspek produk budaya.

Perkembangan kebudayaan di Sulawesi utara memiliki momentum-momentum kreatifnya. Dan saat ini kita dihadapkan dengan tantangan yang sungguh berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Dapatkah kebudayaan kita beradaptasi dan menjawab tantangan yang ada? Atau “kalah” dan perlahan punah ? Tentu hanya diri kita dan Tuhanlah yang dapat menjawabnya. Penulis : Satria Yanuar Akbar (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here