Bitung, Bunaken.Co.Id-Dalam Industri Musik tidak hanya berbicara tentang musisi dan karyanya, namun juga melibatkan institusi lain seperti label, promotor, distributor, collecting society dan sederet organisasi lainnya sehingga membangun sebuah industri adalah pekerjaan kolektif bersama yang harus dilakukan secara bersama-sama.
Hal seperti ini yang sering disebut dengan ekosistem industri. Tapi nyatanya acap kali ini menjadi suatu permasalahan yang mendasar dalam indsutri musik yang nyatanya ekosistem industri musik tersebut masih berpusat di Jakarta.
Pernyataan tersebut sempat diamini oleh mayoritas peserta Konfrensi Musik Indonesia Ke-2 yang diselenggarakan beberapa waktu lalu di Kota Bandung.
Nampaknya hal tersebut menjadi tantangan bagaimana menumbuh kembang ekosistem dan tata kelola industri musik di berbagai kota lain di Indonesia seperti yang dibahas dalam Bincang Kreatif volume 8 kali ini yang bertempat di ruang kreatif North Celebes Creative Lab (NCCL). Senin (23/11/2020).
Viddy Supit selaku moderator dalam Bincang Kreatif ini menjelaskan industri musik sudah mengalami beberapa tahap sampai saati ini bermula dari piringan hitam, kaset, kemudian masuk dalam fase RBT dan akhirnya sekarang berada di fase industri musik streaming yang tidak ada batasnya.
“Hal ini terlihat ketika kalau hari ini kita launching sudah tidak ada batas dengan adanya platform streaming yang sudah menjamur,” ujarnya.
Hal tersebut pun diiakan oleh Yefta salah satu personil Two Shaggy ysng hadir dalam Bincang Kreatif tersebut.
“Karya bisa dilihat lebih luas, bisa dilihat seperti halnya youtube yang membuat orang dari luar bisa tau apa yang terjadi di Kota ini, sehingga m alah lebih mudah untuk kita berkarya karena apapun yang dibuat bisa dilihat,” tambahnya.
Sedangkan menurut Jacq Lawalata ekosistem industri musik itu diumpamakan layaknya seperti telaga dimana mempunyai satu kesatuan yang saling membutuhkan.
”Ekosistem seperti telaga menjadi satu kesatuan yang utuh. Namanya ekosistem saling bergantung, jelasnya seperti simbiosis mutualisme bermula dari hal-hal sederhana yang saling membutuhkan,” jelas Jacq.

Sementara itu ditempat terpisah melalui aplikasi Zoom, Vicky yang tergabung dalam band asal Kotamobagu yakni Braga menambahkan sangat pentingnya ekosistem industri musik yang dilihat dari proses berkarya dirinya bersama personil bandnya.
“Braga bikin karya dan ketika up lagi muncul di tahun 2015 dimana situasi ekosistem industry music di Kotamobagu mati suri,” tambahnya.
Dirinya menambahkan dimana untuk publisher Bragga sebenarnya hanya lewat kawan ke kawan sehingga Jejaring itu penting seperti hubungan satu yang lain.
“Sehingga sampai sekarang Braga bisa prepare mini album kedua yang bertemakan lingkungan. Sebuah lagu tentang laut hutan dan sungai,” terang Vicky.
Menyikapi hal tersebut Satria Yanuar Akbar yang juga selaku Independent Producer dan Event Director mengatakan ada dua kubu besar dalam industri musik yakni major lebel dan indie. Major sendiri seperti halnya lebel musik yang kadang kala tidak terlalu peduli dengna karya yang dihasilkan apakah bagus tapi hanya berfokus bagaimana karya terrsebut menjadi hits dan laris dipasaran.
Sedangkan Indie adalah satu kesatuan industri musik yang independen yang dalam kesimpulan Satria adalah skena kemandirian yang dibangun dari orang-orang yang punya semangat kolektif.
“Karena punya hobbi yang sama sehingga semua beransumsi sama. Tetapi yang menjadi masalah kita berhadapan dengan konsistensi,” ucap Satria.
Di Sulut sendiri menurutnya terdapat banyak ruang kosong dan juga banyak banyak artis yang mempunyai talenta dalam dunia Musik.
“Seniman banyak tapi yang ngurusin seniman sedikit, ini yang menjadi tantangan sebenarnya, sehingga kami membuat NCCL yang salah satu tujuannya untuk menyediakan tempat dan ruang bagi musisi Sulawesi Utara dalam ekosistem industri musik tersebut,” pungkasnya.
Perlu diketahui juga dalam Bincang Kreatif kali ini melaunching sebuah Group Vocal Bitung Voice yang terdiri Aurora, Megha, Meidy, dan Rani yang tampil membuka Bincang Kreatif tersebut dan ditutup oleh tampilan Instrumen Jacq Lawalata serta Two Shaggy dengan singlenya yang berjudul “Munafik”. (Cal)

Tinggalkan Balasan