Kritik Seni, Ointoe: Seorang Kritikus Tidak Halnya Adalah Seorang Kreator

0
258

Bitung, Bunaken.Co.Id-Seni yang baik adalah seni yang memiliki pandangan tentang apa yang terjadi, seperti pada umumnya kesenian adalah cerminan dari apa yang dialami.

Bagaimana seni mempengaruhi cara alam berpikir, cara berpakaian, dan juga model rambut, serta tutur kata.

Sebaiknya-baiknya seni yang di tampilkan, layaknya makanan yang dihidangkan tentunya akan ada kritikan yang dilontarkan.

Untuk itu setiap kritik seni yang disampaikan bukan hanya untukmengkoreksi, tetapi menjadi tuntunan dan pandangan para kreator.

Reiner E. Ointoe selaku, sastrawan, budayawan, dan kritikus budaya, juga mengatakan kritik bukan hanya membedah suatu karya tetapi karya sendiri itulah yang disebut kritik.

“Seorang kritikus tidak halnya adalah seorang kreator,” ujar Ointoe sastrawan senior Sulawesi Utara dalam Bincang Kreatif Volume 7 bertempat di Ruang Kreatif North Celebes Cereative Lab (NCCL), Kelurahan Sagerat, Kecamatan Matuari, Kota Bitung Senin (16/11/2020).

Dirinya menjelaskan, contohnya dalam sebuah pagelaran seni, seseorang memainkan sebuah peran dengan dia menafsirkan sebuah karya dengan adegan yang dirinya tampilkan itulah yang disebut kritik.

“Fungsi kritik tidak sekedar membabat karya tetapi harus juga menciptakan bagaimana adegan dan pengembaran kisah dalam suatu karya,” lanjut Ointoe.

Hal ini menurut Ointoe dilihat dari bahasa asli Kritik yakni “Krinien” yang diambil dalam bahasa Yunani yang berarti “menghakim” atau “mendidik”, sedangkan dalam bahasa Indonesia sendiri diartikan sebagai “Didikan” atau “Pendidikan”.

“Fungsi kritik tidak sekedar membabat karya tetapi harus juga menciptakan bagaimana adegan dan pengembaran kisah dalam suatu karya,” jelasnya.

Lebih jelasnya Ointoe menambahkan fungsi kritik adalah merubah suatu teks menjadi konteks yang berbebeda.

“Fungsi kritikus seperti kreator baru dari karya yang dimaksud,” pungkas. (Cal)

KPU1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here