MANADO, Bunaken.co.id – Hari ini, 4 April 2026, menandai tepat 65 tahun sebuah peristiwa monumental yang tidak hanya mengubah peta politik Sulawesi Utara, tetapi juga memberikan dampak besar bagi stabilitas sosial dan ekonomi Indonesia. Peristiwa tersebut adalah kembalinya Permesta ke pangkuan Ibu Pertiwi pada 4 April 1961.

Sejarah mencatat bahwa peristiwa ini merupakan salah satu pijakan krusial yang kemudian bermuara pada lahirnya Provinsi Sulawesi Utara (dahulu disingkat Sultara) pada 23 September 1964. 

Tanpa adanya rekonsiliasi besar pada tahun 1961 tersebut, wajah administratif dan politik Bumi Nyiur Melambai mungkin akan sangat berbeda hari ini.

Pengamat politik, Taufik Manuel Tumbelaka, menyoroti pentingnya mengambil pelajaran dari para tokoh masa itu. Menurutnya, keputusan untuk mengakhiri pertikaian merupakan bentuk kematangan berpikir dan bertindak yang luar biasa.

“Kala itu, para tokoh dihadapkan pada dua pilihan sulit: melanjutkan pertikaian sesama anak negeri atau melakukan langkah kesepakatan damai. Padahal, secara militer, kekuatan Permesta saat itu masih sangat besar dengan sekitar 25.000 pasukan dan penguasaan 7.000 pucuk senjata,” ujar Taufik Tumbelaka kepada wartawan di Manado, hari ini.

Kesadaran akan pentingnya persatuan di atas kepentingan kelompok inilah yang membuat para tokoh Permesta akhirnya memilih untuk kembali, sebuah keputusan yang sangat patut dihargai dan dihormati oleh generasi saat ini.

Ada catatan sejarah menarik di balik rekonsiliasi ini. Penamaan peristiwa ini sebagai “Permesta Kembali Ke Pangkuan Ibu Pertiwi” ternyata memiliki latar belakang emosional yang mendalam.

Awalnya, pihak Pemerintah Pusat mengusulkan nama “Permesta Kembali Ke Pangkuan RI”. Namun, atas permintaan salah satu tokoh kunci Permesta, Abe Mantiri, frasa tersebut diubah menjadi “Kembali Ke Pangkuan Ibu Pertiwi”. 

Hal ini mencerminkan bahwa kepulangan mereka bukan sekadar urusan administratif politik, melainkan kembalinya seorang anak ke pelukan induknya—sebuah ikatan batin sebagai sesama bangsa.

Peringatan 4 April ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat di Sulawesi Utara bahwa kedamaian yang dinikmati hari ini berakar dari keberanian para pendahulu dalam menekan ego militer demi kepentingan yang lebih besar.

Torehan sejarah ini menjadi bukti bahwa dialog dan kesepakatan damai selalu menjadi jalan terbaik dalam menyelesaikan dinamika kebangsaan, sekaligus menjadi modal utama bagi pembangunan ekonomi dan sosial Sulawesi Utara hingga saat ini. (Jerry)