MANADO, Bunaken.co.id – Bertempat di kawasan Paniki Mapanget, Senin (2/3/2026), Pengurus dan Simpatisan Yayasan Permesta Sejahtera Indonesia (YPSI) menggelar diskusi hangat sekaligus makan siang bersama insan pers. Pertemuan ini dilakukan bertepatan dengan peringatan peristiwa bersejarah Proklamasi Permesta 2 Maret 1957.
Ketua Umum YPSI, Boyke Rompas, SH, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya mempererat silaturahmi sekaligus membedah isu strategis NKRI.
Hadir dalam diskusi tersebut pengamat politik Taufik Tumbelaka, yang juga merupakan putra Gubernur pertama Sulawesi Utara, FJ ‘Broer’ Tumbelaka.
Boyke Rompas, yang juga mantan birokrat senior Pemprov Sulut, menjelaskan bahwa semangat perjuangan Permesta di masa lalu—yakni tuntutan pemerataan pembangunan—kini telah terjawab melalui sistem otonomi daerah.
”Cita-cita perjuangan tersebut sudah terwujud dalam bingkai NKRI. Fokus kita saat ini adalah bagaimana berkontribusi nyata bagi bangsa dan menjaga stabilitas keamanan serta ekonomi,” ujar Rompas.
YPSI, yang telah resmi berbadan hukum melalui SK Menkumham No. AHU – 0019833.AH.01.04 Tahun 2024, didirikan dengan semangat pelayanan murni tanpa muatan politik praktis.
Fokus utama yayasan ini meliputi Pelayanan Kasih: Fokus awal pada keluarga pelaku sejarah Permesta. Aksi Sosial Nyata: Telah menyalurkan belasan ton beras premium bagi masyarakat kurang mampu di Sulawesi Utara. Pemberdayaan Masyarakat: Menghimpun semangat persatuan demi kemajuan daerah.
Yayasan ini diisi oleh tokoh-tokoh berpengalaman dan putra-putri pejuang sejarah, di antaranya Ketua Umum Boyke Rompas, SH (Putra Tokoh Permesta, alm. Mayor Nyong Rompas), Sekretaris Frederik Anderson Umboh, SH, MP (Putra Komandan Batalyon F, Beto Umboh), Pengawas Johanis Jantje Rumambi (Mantan Sekda Minahasa Utara), Anggota Taufik M. Tumbelaka.
Sosok di balik kepemimpinan YPSI, Boyke Rompas, memiliki akar sejarah yang kuat. Ayahnya, Mayor Nyong Rompas, adalah penerima Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno dan memiliki rekam jejak militer yang panjang, mulai dari Brigade XVI Jawa Timur hingga peran krusial dalam penumpasan PKI di Minahasa.
Perjuangan tersebut diakhiri dengan semangat rekonsiliasi melalui Kepres Nomor 322 Tahun 1961 tentang Rehabilitasi dan Abolisi, yang membawa para tokoh Permesta kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Pertemuan ini menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa sejarah adalah fondasi untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih adil dan sejahtera. (Jerry)

Tinggalkan Balasan