Christiany Eugenia Paruntu (CEP)

​MANADO, Bunaken.co.id – Dalam riuh rendah panggung politik Sulawesi Utara, sering kita terjebak pada angka, survei, dan janji-janji menjelang kontestasi. Namun, di penghujung Februari 2026 ini, sebuah fenomena menarik tertangkap radar pengamat: konsistensi seorang Christiany Eugenia Paruntu (CEP) dalam merawat sisi kemanusiaan di balik jabatannya sebagai anggota DPR-RI dan Ketua DPD I Partai Golkar Sulut.

​Pengamat Politik dan Pemerintahan Sulut, Taufik Manuel Tumbelaka, menyoroti bagaimana sosok yang akrab disapa Tetty Paruntu ini kembali turun ke lapangan. Kali ini, sasarannya adalah saudara-saudara yang sedang menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Bagi banyak politisi, momen ini mungkin dianggap sebagai rutinitas musiman, namun bagi CEP, ini adalah bagian dari napas politik yang sudah ia emban selama 1,5 dekade.

​Tumbelaka mencatat bahwa langkah-langkah sosial—seperti pemberian tali kasih atau bantuan sosial (bansos)—sering dipandang sinis atau dicurigai sebagai strategi pencitraan sesaat. Namun, ia menegaskan bahwa ada satu kunci yang membedakan CEP dengan politisi “musiman” lainnya: Konsistensi.

​”Jawaban atas kecurigaan politik itu cuma satu: seberapa konsisten langkah itu dilakukan. Dan rentang waktulah yang membuktikannya,” ujar Tumbelaka kepada wartawan di Manado, Minggu (1/3/2026).

​Dalam catatan sang analis, Tetty Paruntu telah melakukan aksi sosial ini jauh sebelum ia duduk di kursi Senayan, tepatnya sejak menjabat sebagai Bupati Minahasa Selatan dua periode lalu. Artinya, jejak kasih ini telah terukir selama kurang lebih 15 tahun.

​Di dunia akademis dan praktis, apa yang dilakukan CEP dikenal sebagai Humanizing Politic atau politik yang memanusiakan. Poin-poin utama yang menonjol dari gerakan CEP selama belasan tahun ini meliputi: ​Tanpa Sekat: Langkah sosial dilakukan kepada semua pihak tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun golongan.

​Harmoni Indonesia: Konsistensi ini memperkuat rajutan toleransi di Sulawesi Utara yang dikenal sebagai laboratorium kerukunan, ​Personal Branding yang Organik: Citra positif yang terbentuk bukan hasil polesan instan menjelang Pemilu atau Pilkada, melainkan buah dari investasi sosial jangka panjang.

​Sayangnya, menurut Tumbelaka, langkah konsisten seperti ini masih tergolong langka. Mayoritas aktor politik cenderung baru “terlihat dermawan” saat fajar Pemilu atau Pilkada mulai menyingsing.

​Hal inilah yang menempatkan CEP sebagai “Sosok Pembeda” di Sulut. Ia tidak hanya hadir saat suara dibutuhkan, tetapi tetap ada saat mandat telah digenggam. Bagi CEP, politik bukan sekadar urusan meraih kekuasaan, melainkan instrumen untuk menebar manfaat secara berkesinambungan.

(Jerry)