Gubernur Yulius Selvanus memaparkan materi

MANADO, Bunaken.co.id – Selama puluhan tahun, produk-produk unggulan dari Timur Indonesia harus menempuh perjalanan “berliku” sebelum sampai ke meja konsumen di mancanegara. 

Ikan segar dari perairan Maluku atau komoditas unggulan dari Papua sering kali harus singgah dulu di pelabuhan-pelabuhan Pulau Jawa sebelum akhirnya bertolak ke utara menuju Jepang atau Tiongkok.

​Rantai logistik yang panjang ini bukan sekadar soal jarak, tapi soal waktu yang terbuang dan biaya yang membengkak. Namun, angin perubahan itu kini bertiup kencang dari Aula GKN Manado.

​Senin (19/1/2026), suasana di ruangan tersebut terasa penuh energi. Para pengambil kebijakan, mulai dari Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus hingga Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun, berkumpul dalam satu meja. 

Misinya ambisius: menjadikan Pelabuhan Bitung sebagai gerbang utama (hub) logistik global yang akan mengubah wajah ekonomi kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua).

​Memangkas Waktu, Melawan Jarak

​Gubernur Yulius Selvanus tidak hanya bicara soal data, tapi soal masa depan. Ia membeberkan fakta yang cukup mencolok: Sulampua menyumbang sekitar USD 25–30 miliar per tahun bagi ekspor nasional. Namun, ketergantungan pada pelabuhan di Jawa membuat efisiensi menjadi barang mahal.

​”Dengan adanya direct call (pelayaran langsung) dari Bitung, kita tidak lagi bicara soal minggu, tapi hari,” tegas Gubernur Yulius.

​Logikanya sederhana namun revolusioner. Jika selama ini pengiriman barang ke Asia Timur memakan waktu hingga 30 hari, lewat jalur Bitung, durasi itu bisa dipangkas menjadi hanya 7 hingga 10 hari. 

Dampaknya? Biaya logistik bisa melorot hingga 30 persen. Bagi pengusaha, ini adalah oksigen baru bagi daya saing produk mereka.

​Jembatan Menuju Raksasa Asia

​Di sisi lain meja, Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, membawa perspektif global. Tiongkok bukan lagi sekadar mitra dagang, melainkan “raksasa” yang sudah di depan mata. 

Dengan nilai perdagangan yang menembus USD 150 miliar pada akhir 2025, integrasi Bitung ke dalam rantai pasok Asia Timur bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

​”Ini bukan sekadar jalur perdagangan, tetapi jalur pertumbuhan,” ujar Djauhari. 

Ia membayangkan Bitung sebagai bagian dari Pacific Rim Economic Hub, sebuah titik temu di mana konsep Poros Maritim Dunia bersinergi dengan inisiatif global. Lewat skema seperti Twin Ports, Bitung akan “berjabat tangan” langsung dengan pelabuhan-pelabuhan besar di Tiongkok.

​Lebih dari Sekadar Pelabuhan

​Namun, transformasi Bitung bukan hanya soal kapal yang bersandar. Dalam diskusi interaktif yang dipandu oleh Kepala Kanwil Bea Cukai Sulbagtara Erwin Situmorang dan Ketua APINDO Sulut Riko Lieke, terungkap bahwa keberhasilan hub logistik ini akan memicu efek domino.

​Bayangkan kawasan pergudangan yang tumbuh subur, pusat distribusi regional yang sibuk, hingga munculnya investasi-investasi baru yang menyerap ribuan tenaga kerja lokal. 

Bitung tidak sedang dibangun untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menjadi motor penggerak bagi seluruh wilayah di Indonesia Timur.

​Para pelaku usaha yang hadir memberikan harapan besar. Bagi mereka, direct call dari Bitung adalah janji tentang kepastian usaha. Tak ada lagi kekhawatiran barang rusak karena terlalu lama di perjalanan atau harga yang kalah saing karena ongkos kirim yang mencekik.

​Menatap Pasifik

​Saat FGD berakhir, sebuah pesan kuat tertinggal di ruangan: kebangkitan Indonesia Timur bukan lagi sekadar narasi politik, melainkan langkah nyata yang sedang disusun strateginya.

​Sulawesi Utara, dengan Bitung sebagai ujung tombaknya, sedang bersiap melepaskan ketergantungan lama dan berdiri tegak sebagai pemain kunci di kawasan Asia Pasifik. 

Jika rencana ini berjalan mulus, maka dalam waktu dekat, fajar ekonomi Indonesia tak lagi hanya terbit di Barat, tapi bersinar paling terang dari Timur. (**Jrp)