oleh

Mengenal Yayasan Plan International Indonesia Lewat SAFE Seas Project

Manado, Bunaken.Co.Id-Pemberian dukungan perlindungan dan edukasi yang kuat tentunya sangat dibutuhkan untuk seluruh masyarakat yang masih awam tentang kebutuhan bantuan hukum.

Terlebih khususnya bagi masyarakat yang bekerja di dunia perikanan tangkap seperti Awak Kapal Perikanan (AKP) yang sangat rentan mengalami kerja paksa dan perdagangan orang di kapal baik dalam maupun diluar negeri.

Dikutip dalam laman resmi Yayasan Plan Internasional Indonesia, Safeguarding Against and Addressing Fissher’ Exploitation at Sea (SAFE Seas) adalah proyek perlindungan awak kapal perikanan yang dikelola oleh Plan International dan pelaksanaannya di lakukan di Indonesia dan Filipina.

SAFE Seas sendiri bertujuan untuk memerangi kerja paksa dan perdagangan orang di kapal penangkapan ikan di kedua negara.

Di Indonesia, SAFE Seas dilaksanakan oleh Yayasan Plan International Indonesia (YPII).

Dalam menjamin penegakan hak awak kapal perikanan, SAFE Seas Project hadir dengan tujuan untuk melindungi hak-hak mereka dengan memperkuat regulasi dan kebijakan, serta meningkatkan koordinasi di antara lembaga baik pemerintah maupun swasta untuk mengatasi ekspolitasi tenaga kerja di atas kapal penangkap ikan.

Hasil nyata dari proyek ini adalah telah didirikan sebuah tempat layanan informasi dan rujukan yang dinamai Fishers Center.

Fishers Center yang sudah diresmikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan pada tahun 2020 berlokasi di kota Tegal, Jawa Tengah dan kota Bitung, Sulawesi Utara yang sudah menangani banyak kasus yang sempat dilaporkan dan tertangani dengan baik.
Fishers Center yang berada di Kota Bitung, Sulawesi Utara, dipimpin oleh D Novian Baeruma, S.H (Kepala Kantor Fishers Center) dan Fishers Center di Jawa tengah Tegal di Pimpin Oleh Beni Sabdo Nugroho (Kepala Kantor Fishers Center).

Dengan demikian kehadiran SAFE Seas Project ini sangat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat dan berdampak luas, seperti yang dirasakan Arnon Hiborang, selaku Ketua Serikat Awak Kapal Bersatu Sulawesi Utara (SAKTI) Sulut yang juga berkesempatan menjadi peserta dalam pelatihan Paralegal yang diprakarsai oleh Yayasan Plan International Indonesia lewat SAFE Seas Project bersama mitra mereka Yayasan Cahaya Mercusuar Indonesia dengan menggandeng Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Kemenkumham.

Diketahui kegiatan pelatihan dan pendidikan ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dari tanggal 25 April 2022 dan berkahir di tanggal 27 April 2022, dengan melibatkan 20 orang peserta dari berbagai lokasi dan daerah yang notabene tergabung dari beberapa elemen organisasi dan serikat buruh.

“Betapa perlu dan dibutuhkannya pelatihan seperti ini mengingat serikat kami sering mendampingi teman-teman yang bekerja khusus di kapal perikanan yang memang dalam tanda kutip memiliki SDM yang lemah yang tidak tahu dengan aturan, tidak tahu dengan hukum jadi sering mengalami diskriminasi dari pemberi kerja,” ungkap Hiborang disela-sela kegiatan pelatihan, Selasa(26/04/2022).

SAFE Seas Projects menurutnya memiliki dampak yang sangat baik pada teman-teman pekerja di kapal perikanan, karena membantu memberikan edukasi, informasi, dan rujukan.

“Artinya yang dulunya kita tidak tahu, ternyata selama ini kita bekerja di Kapal Perikanan tidak sesuai dengan aturan yang ada. Kami juga berharap dengan Pelatihan Paralegal ini jangan cuma ikut sampai disini, tapi ilmu yang didapat bisa diaplikasikan dan berguna bagi banyak orang,” Harapnya. (Cal)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed