Penulis : Hariyani Sambali

Bunaken.co.id – Desa Simueng Kecamatan Tabukan Selatan Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara, merupakan salah satu desa nelayan yang dapat ditempuh dengan mobil dari ibukota kabupaten Tahuna sekitar 1 jam 15 menit. Akses jalan sudah relatif baik walaupun masih cukup sempit di beberapa bagian, sehingga pengendara harus cukup hati-hati ketika berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan. Simueng dalam bahasa setempat mempunyai arti “jalan masuk” yang mungkin diartikan jalan masuk ke pantai. Hamparan pantainya menarik dan bentuknya seperti teluk serta terlindung dari terjangan ombak karena adanya pulau Tehang didepannya. Kehidupan warga desa sangat bersahaja seperti pada umumnya desa yang perekonomiannya bertumpu pada hasil laut atau perikanan tangkap. Nelayan Simueng pada umumnya menerapkan metode menangkap ikan dengan menggunakan panah ikan, yang tentunya mengharuskan mereka untuk menyelam.

Jeferson salah satu warga Simueng yang kesehariannya sebagai nelayan menangkap ikan dengan menggunakan panah ikan atau dalam bahasa lokal disebut “jubi”(speargun), namun yang cara penangkapan ikan dengan metode ini menyimpan potensi bahaya untuk jangka panjang. Hal ini karena nelayan “jubi” menggunakan alat bantu kompresor untuk menyuplai udara buat bernafas dalam air. Jefferson sebenarnya menyadari hal tersebut, seperti yang dia kemukakan bahwa penggunaan alat bantu penangkapan ikan dengan menggunakan kompresor dapat membahayakan kesehatan dirinya, karena penggunaan kompresor dapat merusak paru-parunya dan bahkan dapat mengakibatkan kelumpuhan karena menyelam pada kedalaman yang mencapai 50 – 70 meter dari permukaan air. Nelayan penyelam ini kemudian mencoba untuk mengurangi resiko bahaya dengan menggunakan selang yang berukuran panjang 50 meter kedalamannya, sehingga kedalaman yang dicapainya hanya 30 sampai 40 meter. Hal ini sedikit berbeda dengan nelayan lain yang menggunakan selang penyalur udara dari kompresor sepanjang 100 meter, yang berarti bahwa mereka dapat mencapai kedalaman 75 – 80 meter, yang tentunya sudah sangat berbahaya terhadap kesehatannya. Bahaya lainnya adalah selang udara yang saling berlilitan karena setiap melakukan penyelaman untuk mencari ikan ada 2 orang nelayan penyelam yang bertugas mencari ikan pada saat yang bersamaan.

Biasanya nelayan akan melaut pada pukul 16.00 – 16.30, dan nelayan atau orang yang ikut dalam perahu berjumlah 3 – 6 tergantung dari ukuran perahu yang digunakan. Biaya atau modal dalam setiap mencari ikan berkisar Rp. 150.00 – 600.000/trip, biasanya orang yang ikut dalam perahu punya hubungan keluarga, sebagai contoh Jefferson ketika melaut bersama dengan istri dan adik laki-lakinya yang sudah menikah. Kisaran usia nelayan yang melaut adalah 25 – 60 an, namun yang berusia tua hanya bertugas di perahu dan mengawasi kompresor. Nelayan akan kembali dari melaut pada dini hari pukul 15.00 – 16.00 dengan membawa hasil tangkapannya ke desa Simueng dan selanjutnya oleh istri ataupun nelayan sendiri yang membawa ke pasar Manalu untuk dipasarkan. Di Simueng tidak ada pedagang penampung atau perantara, sehingga nelayan menjual sendiri ke pasar Manalu yang di buka setiap harinya, namun pasar besar atau banyak penjual dan pembeli biasanya pada hari senin, rabu, dan Sabtu. Banyak nelayan yang memutuskan untuk menangkap ikan pada hari jumat, karena hari sabtu merupakan hari pasar besar. Ikan-ikan yang tertangkap itu adalah jenis ikan karang (kakap merah, goropa, kakatua dll) yang jika dijual nilainya berkisar Rp. 30.000 – 50.000 per kilogramnya.

Dr. Isrojaty Paransa adalah salah satu yang sangat prihatin dengan potensi bahaya yang dapat terjadi pada cara penangkapan ikan dengan metode ini dan melalui program pemberdayaan masyarakat yang di biayai oleh Dana Ristek Dikti Tahun 2020, mencoba mengadakan pendekatan kepada masyarakat khususnya nelayan, untuk mengubah kebiasaan menangkap ikan dengan menggunakan alat bantu pemasok udara kompresor bagi penyelam dengan mengenalkan penggunaan jaring insang dasar yang ramah lingkungan. Dosen pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi ini menjelaskan bahwa tidak mudah mengubah kebiasaan orang dari penangkap ikan dengan menggunakan “jubi” (speargun) untuk beralih menggunakan jaring, karena hal ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan hasil tangkapan ikan menurut nelayan setempat cukup besar secara ekonomi. Berdasarkan hasil penelusuran kepada beberapa nelayan, diketahui bahwa mereka tidak mengetahui resiko atau bahaya yang mengintai dari penggunaan kompresor terhadap kesehatan mereka.D6 Metode penangkapan ikan dengan menggunakan alat bantu kompresor di mulai pada tahun 1985 nelayan di Indonesia, terutama dari daerah Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara, dan Lampung mulai menggunakan sianida untuk menangkap ikan, yang secara teknis adalah membius ikan untuk industri makanan dari laut. Teknik penangkapan ikan dengan menggunakan sianida pertama kali diperkenalkan oleh penyelam-penyelam dari Hong Kong dan Taiwan (Halim, 2002), yang kemudian meluas pemakaiannya hampir diseluruh Indonesia untuk menangkap ikan secara mudah dengan cara membius, terutama ikan hias dan ikan konsumsi dalam keadaan hidup, khususnya ikan-ikan yang hidup di ekosistem terumbu karang. Sekalipun Undang-Undang Tentang Perikanan Nomor 9 Tahun 1985, telah mengatur tentang pelarangan cara penangkapan ikan dengan menggunakan alat/bahan yang dapat merusak/membahayakan ekosistem, dimana hal ini secara jelas tercantum pada pasal 1 ayat 14 dan 15, serta pasal 6 ayat 1. Namun, tingginya permintaan pasar dan secara finansial memperoleh harga yang tinggi tetap membuat hal ini terus terjadi dan lebih disukai oleh nelayan. Pada awalnya nelayan menggunakan peralatan selam SCUBA (self-contained underwater breathing apparatus) untuk menangkap ikan hidup dengan sianida. Namun, keinginan untuk mendapatkan perolehan hasil tangkapan yang lebih banyak tentunya waktu dalam penyelaman harus lebih lama, yang hal ini tidak bisa jika menggunakan tangki SCUBA yang terbatas waktu penggunaannya. Hal ini kemudian mencari alternatif lain, yaitu dengan menggunakan kompresor udara yang tentunya sangat berbeda dengan tangki SCUBA yang diisi dengan udara yang telah melalui beberapa filtrasi atau penyaringan. Penggunaan kompresor sebagai alat bantu pernapasan bagi nelayan untuk menyelam, membuat mereka lebih lama di dalam air dan area pencarian ikan lebih luas lagi.

Selanjutnya Halim (2002) menambahkan bahwa menggunakan kompresor udara sangat berbeda dari sisi hasil tangkapan ikan yang diperoleh nelayan jika dibandingkan menggunakan metode sebelumnya yaitu pancing (hooks and lines) dan perangkap (traps). Namun, metode ini mempunyai dampak yang berat terhadap nelayan penyelam, dimana udara yang dialirkan melalui kompresor tidak disaring dengan baik, terkadang saluran udara berdekatan dengan saluran gas buang (knalpot), hasilnya nelayan penyelam menghirup udara yang mengandung polutan sisa pembakaran, seperti karbon monoksida, yang berbahaya bagi paru-paru. Seorang mantan penyelam pengguna kompresor dari Provinsi Nusa Tenggara Timur menceritakan bahwa rekannya sesama penyelam menderita sakit dimana terkadang memuntahkan darah, hal ini merupakan konsekuensi jangka panjang menghirup udara yang telah terkontaminasi (Halim, 2002).

Berkat pendekatan yang tanpa mengenal lelah akhirnya Dr. Isrojaty bersama dengan rekan penelitinya Dr. Hariyani Sambali dan Ir. Dolfi Pamikiran, akhirnya membuahkan hasil, ketika kelompok nelayan bersedia untuk diajak sebagai mitra. Ada beberapa kelompok mitra yang bersedia untuk kerjasama, namun untuk awal dipilih kelompok IMANUEL dan MANGANGANU sebagai mitra dengan harapan kelompok ini bisa menjadi contoh bagi kelompok nelayan lainnya. Kelompok ini kemudian diberikan penyuluhan, pendampingan, pelatihan mendesain dan membuat alat tangkap yang ramah lingkungan hasil desain Dr. Isrojaty yaitu jaring insang dasar yang telah dimodifikasi tidak akan merusak karang. Jaring ini dapat dioperasikan untuk menangkap ikan demersal (ikan yang hidup pada kedalaman) dan ikan pelagis (yang hidup pada permukaan). Lendy Daruis ketua kelompok Emanuel mengemukakan bahwa pada awalnya mereka tidak menghiraukan, namun ketika mengikuti penyuluhan, Lendy dan kelompoknya mendapatkan banyak informasi dan memahami bahaya menggunakan kompresor sebagai alat bantu menangkap ikan. “saya memang memahami bahwa hasil atau pendapatan dari tangkapan ikan dengan menggunakan jaring insang dasar, hasil yang saya bawa pulang ke rumah lebih kecil, tapi saya lebih tenang karena ketika mencari ikan tidak diusir oleh nelayan lain yang merasa dirugikan”, hal lainnya saya merasa lebih sehat, tidak lagi harus menyelam pada malam hari dan pulang pada dini hari dalam keadaan kedinginan. Nelayan penyelam biasanya ketika pulang pagi harinya akan mekonsumsi minuman keras untuk memanaskan tubuh mereka, sehingga telah menjadi pemandangan yang biasa jika pagi hari beberapa dari nelayan mabuk.

Namun sayangnya, perubahan ini belum sempat disaksikan oleh Dr. Isrojaty Paransa, karena beliau menghembuskan nafas terakhir pada akhir Juli 2020. Senyum dan candaan beliau kini hanya tinggal kenangan bagi kelompok Mitra dan masyarakat Desa Simueng, namun semangatnya akan tetap hidup dalam sanubari orang-orang yang mengenal dan mencintainya.
Penulis adalah dosen pada FPIK UNSRAT Manado(**)

KPU1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here