Risat Sanger Himbau Mahasiswa Papua di Sulut Tidak Terpengaruh Isu Hoax

0
58

Manado, Bunaken.co.id – Aktifis Mahasiswa Sulut, Ikatan Alumni Unsrat dan Manado Cyber Comunity gelar Press Conference dalam rangka mencermati pulangnya mahasiswa Papua yang sementara study ke kampung halaman, Sabtu (07/09) kemarin, di salah satu rumah makan daerah Manado.

Risat Sanger selaku Aktifis Mahasiswa Sulut, Ketua Garda Tipikor Indonesia Sulut menghimbau kepada mahasiswa Papua yang ada di Sulut agar jangan mudah terpengaruh dengan isu hoax.

“Contohnya kejadian di Tomohon, setelah di cek berita itu bohong karena mahasiswa itu kedapatan mabuk diamnakan oleh pihak keamanan sekolah. Dan setelah di amankan ketemu dengan kakak senior yang langsung memukul adik juniornya,” Jelas Risat.

lanjut Risat, apabila rekan mahasiswa Papua kembali ke Papua, tidak ada jaminan dari pihak fakultas untuk memberikan cuti ataupun apabila mereka tidak hadir dalam kegiatan kampus maka semester berikutnya mereka tidak dinyatakan lulus.

“Pada saat pertemuan MRP dengan mahasiswa Papua di Asrama Papua Kamasan, malah MRP yang mengajak untuk pulang ke Papua jika tempat mereka kuliah terjadi intimidasi,” Ujarnya.

Risat juga meminta kepada pihak keamanan untuk mencari penyandang dana terkait adanya mobilisasi dan kepulangan mahasiswa Papua.

“Adanya berita Hoax di medsos yang menyatakan bahwa kejadian di Tomohon pada tanggal 5 September 2019, ada oknum keamanan yang melakukan pemukulan terhadap siswa asal Papua, akan tetapi faktanya siswa tersebut di pukul oleh seniornya atau siswa asal Papua oleh karena itu jangan terprovokasi dengan berita-berita yang tidak jelas kebenarannya,” Tuturnya.

Sementara itu, DR. Jhoni Lengkong Dosen Fisip Unsrat mengatakan, kolonial adalah suatu negara menguasai rakyat dan sumber daya negara lain tetapi masih tetap berhubungan dengan negara asal. Suatu kejadian yang terjadi di Papua itu dirasakan sampai di Sulut dan bahkan tempat lain, itu merupakan tanggung jawab untuk kita selesaikan bersama.

“Pergerakan mahasiswa yang kembali ke Papua perlu dicermati bahwa mereka telah terpengaruh dengan hasutan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, dan kami menghimbau kepada semua mahasiswa Papua untuk tetap konsentrasi kepada pelajaran dan perlihatkan prestasi karena Ketinggalan pelajaran atau semester dapat mempengaruhi keterlambatan kelulusan,” Jelasnya.

Jhoni juga mengajak seluruh lapisan masyarakat di Sulut untuk mewujud nyatakan mencintai bangsa ini dan tidak boleh di pecah belah oleh kelompok-kelompok lain.

Adapun Dra. Flora Kalao, Dekan Fakultas Hukum Unsrat menjelakan, susana di Unsrat saat ini berjalan dengan baik, pulangnya sebagian mahasiswa terjadi kerena ada pengaruh persekusi dan rasisme terhadap mahasiswa Papua di wilayah lain sehingga berdampak sampai di Sulut.

“Pernayataan untuk referdum merupakan hal yang bertentangan dengan hukum dan konstitusi, kami menghimbau kepada masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan ajakan atau isu referendum karena itu merupakan hal yang melanggar hukum,” Katanya. (*/Afr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here