Bahasa Kasih Lenyap, Ketua Sinode Pdt Hein Arina Pimpin Penyegelan YPTK

0
2903

Tomohon, Bunaken.co.id – Konflik yang berkepanjangan antara Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK) dengan Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM masih berkelanjutan, bahkan proses rekonsiliasi penyatuan UKIT diduga bakal digagalkan.

1UHal itu nampak disaat Ketua BPMS GMIM Hein Arina didampingi Sekretaris Umum Pdt Evert Tangel seperti mengabaikan bahasa kasih memimpin langsung penyegelan pengambilalihan aset GMIM yang dikelola YPTK itu.

Aksi saling dorong yang sebenarnya tidak layak dipertontonkan para pemimpin organisasi Gereja yang dipimpin seorang Pendeta Arina Cs terpaksa harus terjadi antara para mahasiswa UKIT YPTK yang sementara melaksanakan kegiatan KKN dengan sejumlah aparat Kepolisian dari Polres Tomohon.

Saat itu, Hein Arina Cs yang merasa benar tidak mempedulikan suara tangisan dari para mahasiswa dan para dosen digedung kuliah karena fasilitas kampus asrama dan rumah dinas dosen disegel dengan balok kayu dan stiker.

Bukan hanya itu, kawasan yang akrab disebut Kampus Bersinar saat ini nampaknya tidak lagi bersinarkan kasih seperti bahasa yang sering keluar dari mulut para hamba Tuhan di atas mimbar.

Ketua BPMS GMIM Hein Arina ketika hendak ditemui wartawan, tampaknya berusaha menghindar untuk dimintai keterangan dan menyerahkan pada Sekretaris Umum BPMS GMIM untuk memberikan penjelasan pada beberapa awak media.

Menurut Pdt Evert Tangel, apa yang dilakukan pihaknya sudah sesuai amanat Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST).

“SMST di Likupang November 2018 mengamanatkan BPMS untuk mengambil aset GMIM yang diduduki YPTK,” jelasnya.

U3

Tangel juga menegasakan bahwa saat ini YPTK tidak lagi merupakan bagian dari GMIM.

“Kami telah menyampaikan surat secara resmi kepada pihak yang mengelola YPTK dan tidak diindahkan oleh pengurus YPTK. Saya tegaskan bahwaYPTK  tidak lagi bagian dari GMIM, sudah ada yang diakui yakni yayasan GMIM Ds AZR Wenas,”tegas Tangel.

Sementara, pihak YPTK melalui Ketua Yayasannya John F Mailangkay menyayangkan tindakan represif yang dilakukan BPMS GMIM.

“Apa yang mereka lakukan sangat represif, kasihan para mahasiswa dan tenaga pengajar yang disegel ruangannya,” tegas Mailangkay yang juga diketahui sebagai tenaga pengajar di UKIT YPTK.

Lanjut kata Mailangkay, pihaknya berharap proses rekonsiliasi dapat berjalan dengan prosedural dengan bahasa kasih dan secara Gerejawi.

Saat ini area Kampus Bersinar kini dijaga ketat aparat dari Polres Tomohon.(Pdt/Sonny)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here