Limbah Kopra : Dari Masalah Menjadi Berkah

0
424

Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial, budaya dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Manfaat tanaman kelapa tidak saja terletak pada daging buahnya yang dapat diolah menjadi santan, kopra dan minyak kelapa tetapi seluruh bagian tanaman kelapa mempunyai manfaat yang besar. Kelapa merupakan tanaman perkebunan dengan areal terluas di Indonesia, lebih luas dibandingkan karet dan kelapa sawit yang menempati urutan teratas untuk tanaman budidaya setelah padi. Sulawesi Utara terkenal dengan nyiur melambai karena memiliki kebun kelapa paling luas yaitu mencapai 266.147,36 ha pada tahun 2010 dan meningkat menjadi 267.350,79 ha pada tahun 2013. Kopra merupakan hasil utama kelapa dan tumpuan pendapatan masyarakat Sulawesi Utara. Hal ini ditunjukan dominasi kebun kelapa dibandingkan komoditi lainnya di semua kecamatan. Di Sulawesi Utara terdapat 2 jenis kopra yaitu kopra hitam atau kopra asapan dan kopra putih. Pada umumnya petani kopra di Sulawesi Utara memproduksi kopra hitam atau kopra asapan karena masih menggunakan alat tradisional yang banyak dimiliki oleh petani. Sedangkan kopra putih masih sedikit memproduksinya karena proses pembuatannya sangat rumit dan membutuhkan alat berupa tunggu kopra putih yang masih terbatas dan mahal.

Kabupaten Kepulauan Talaud adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia dengan ibu kota Melonguane. Kabupaten ini berasal dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2000. Kabupaten Kepulauan Talaud terletak di sebelah utara pulau Sulawesi. Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Talaud, produksi kelapa pada tahun 2017 mencapai 18577,38. Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa di Sulawesi Utara, Talaud sering disebut sebagai hutan kelapa karena produksinya yang besar. Hal ini menjadikan Kabupaten Talaud dapat memproduksi olahan kelapa berupa kopra yang mampu meningkatan perekonomian di Talaud. Di Sulawesi Utara khususnya Kabupaten Kepulauan Talaud, kelapa sebagian besar diolah menjadi kopra yang selanjutnya diolah menjadi minyak goreng. Kopra merupakan salah satu produk turunan tanaman kelapa yang sangat penting. Pada tahun 2005 volume ekspor kopra hampir mencapai 50 ribu ton, dan nilai ekspor kopra menempati peringkat tiga setelah minyak kelapa dan minyak goreng dalam volume dan nilai ekspor produk turunan kelapa. Untuk harga kopra saat ini seharga Rp 15.000 per kilogram. Harga ini sempat mengalami penurunan sampai Rp10.000 – Rp12.000 per kilogram. Akan tetapi dari pemprov Sulut melakukan pembaharuan dan peningkatan baik dalam hasil produksi maupun alat untuk mendukung hasil produksi kopra. Hal ini diakibatkan produksi kopra yang mempunyai peluang yang besar baik dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini terbukti kopra diekspor ke Filipina sebanyak 1.600 ton dan mampu menghasilkan devisa bagi negara sebesar USD1,57. Ini membuktikan, hasil kopra dari Sulawesi Stara dapat bersaing dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Akan tetapi walaupun kopra memiliki dampak ekonomis untuk masyarakat Sulawesi Utara khususnya di Kabupaten Kepulauan Talaud, kopra membawa limbah yang dapat merusak lingkungan yaitu sabut kelapa yang tidak dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat. Limbah sabut kelapa ini yang dapat dihasilkan setiap hari sekitar 1-2 ton dalam waktu satu minggu, karena buah kelapa terdiri dari 45% dari sabut kelapa sehingga sabut kelapa yang ditimbang akan lebih berat dari batok dan daging kelapa. Limbah sabut kelapa biasanya juga dimanfaatkan warga untuk pengasapan ikan. Akan tetapi masih banyak sabut kelapa yang hanya ditumpuk yang menjadi sumber sarang nyamuk. Limbah sabut kelapa sampai saat ini belum ada pemanfaatan secara baik bagi petani perkebunan kelapa selain hanya untuk pengasapan ikan. Sebenarnya sabut kelapa dapat dimanfaatkan kembali untuk membangun nilai ekonomis masyarakat di Talaud. Akan tetapi kurangnya kesadaran, pengetahuan dan kreatifitas dari masyarakat setempat, sabut kelapa biasanya hanya ditumpuk dan dibiarkan membusuk. Hal ini dapat membawa dampak buruk antara lain di bidang kesehatan dapat menyebabkan berbagai bibit penyakit, bidang lingkungan dapat menyebabkan polusi bau, air, serta pemandangan yang tidak baik.4Sabut kelapa atau dikenali juga dengan istilah cocopeat merupakan limbah perkebunan yang berlimpah di daerah penghasil kelapa khususnya Talaud. Tanaman yang masih keluarga aren‐arenan atau Arecaceae ini, seluruh bagiannya mempunyai manfaat yang besar bagi manusia. Sabut kelapa adalah salah satu limbah yang terbesar dengan persentase 42% dari berat buah kelapa. Kandungan hara yang dimiliki sabut kelapa baik makro atau mikro ternyata sangat dibutuhkan oleh tanaman. Hal tersebut membuat sabut kelapa bisa dimanfaatkan menjadi biopot, yaitu media tanam yang berisi bahan organik dan nutrisi hara tanaman. Keunggulan dari sabut kelapa sebagai media tanam antara lain adalah lebih ramah lingkungan, karena tidak menggunakan plastik dan bisa langsung ditanam ke lahan. Cocopeat yang merupakan butiran halus atau serbuk dari butiran kelapa, sangat besar menfaatnya untuk pertanian. Menurut penelitian Astuti dan Kuswytasari (2013) menyatakan bahwa  sabut kelapa mampu menyediakan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman khususnya jamur tiram. Kandungan hara yang dimiliki sabut kelapa baik mikro atau makro sangat dibutuhkan oleh tanaman.

Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) telah lama dikenal dan banyak dibudidayakan sebagai jamur pangan. Sebagai salah satu sumber pangan, jamur tiram juga dikenal karena rasaya yang enak dan dapat diolah dengan bervariasi. Keunggulan pengembangan jamur tiram adalah siklus hidup hingga saat panen yang cukup singkat, relatif mudah dibudidayakan serta cukup adaptif dengan penggunaan media taman. Jamur tiram cocok dikembangkan di wilayah tropis dengan kelembaban yang tinggi dan intensitas sinar matahari yang baik. Berdasarkan nilai ekonomis, budidaya jamur tiram sangat prospektif karena memiliki nilai jual yang cukup baik di pasaran, bahkan dengan kualitas dan variasi pengolahan akan semakin meningkatkan nilai jualnya. Sebagai media tumbuh jamur tiram, yang biasanya menggunakan serbuk gergaji sekarang menggunakan sabut kelapa (cocopeat), dimana berfungsi sebagai penyedia nutrisi bagi jamur. Pada penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Yuliani (2014) skripsi tentang Pengaruh Sabut Kelapa Sebagai Media Pertumbuhan Terhadap Kualitas Jamur Tiram   menunjukkan adanya pengaruh variasi sabut kelapa pada media tanam terhadap kondisi fisik. Dan Puspitasari (2015) skripsi tentang Produktivitas Jamur Tiram Putih (Pleurotus astretus) Pada Media Tambahan Sabut Kelapa menyatakan adanya pengaruh variasi media tanam terhadap kandungan nutrisi jamur tiram putih.

Sabut kelapa berpotensi dalam meningkatkan hasil panen jamur tiram. Ada beberapa tahapan atau cara penanaman jamur tiram kedalam media taman sabut kelapa (cocopeat) yaitu sebelum digunakan sebagai media sabut kelapa harus dikompos terlebih dahulu agar bisa terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna oleh jamur. Proses pengomposan dilakukan dengan cara menutupnya menggunakan plastik atau terpal selama 1‐2 hari. Pengomposan berlangsung dengan baik jika terjadi kenaikan suhu sekitar 50⁰C. Selanjutnya, ditambahkan media berupa dedak dan tepung jangung yang berfungsi sebagai substrat dan penghasil kalori untuk pertumbuhan jamur. Dedak merupakan hasil samping dari proses penggilingan padi yang terdiri dari lapisan luar butiran beras (perikarp dan tegmen) serta sejumlah lembaga beras. Berdasarkan penelitian, penggunaan dedak maupun tepung jagung memberikan kualitas hasil jamur yang sama karena kandungan nutrisi kedua bahan tersebut mirip. Sebelum dicampur dengan media lain, sabut kelapa dan dedak disetrilisai terlebih dahulu menggunakan oven selama 6-8 jam pada suhu 100°C. Dengan sterilisasi tersebut selain mengurangi mikroorganisme penyebab kontaminasi juga mengurangi kadar air pada serbuk kelapa, sehingga media menjadi lebih kering. Kedua bahan tersebut kemudian dicampur dan diberi air sekitar 50-60% hingga adonan menjadi kalis dan bisa dikepal. Selanjutnya, dapat diaplikasikan menjadi biopot untuk pertumbuhan jamur tiram.

Pemanfaatan limbah kopra berupa sabut kelapa dapat memberikan kontribusi besar baik untuk permasalahan limbah, serta dapat menambah nilai ekonomis di Kabupaten Kepulauan Talaud. Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa di Sulawesi Utara, Talaud sering disebut sebagai Hutan Kelapa karena produksinya yang besar. Hal ini menjadikan Kabupaten Talaud dapat memproduksi olahan kelapa berupa kopra untuk meningkatan perekonomian di Talaud. Akan tetapi, tingkat produksi kopra juga berdampak meningkatnya produksi limbah yaitu sabut kelapa yang kurang dimanfaatkan. Pencemaran lingkungan di Kabupaten Kepulauan Talaud memang masih rendah karena pemanfaatan yang masih alamiah. Akan tetapi, jika hal ini tidak ditanggulangi dan terjadi secara terus-menerus, akan menjadi boomerang yang berakibat rusaknya kualitas lingkungan di Kabupaten Talaud. Untuk itu pemanfaatan sabut kelapa sebagai media tanam untuk tanaman jamur tiram merupakan salah satu solusi untuk mengurangi limbah.

Pemanfaatan limbah kopra berupa sabut kelapa butuh kontribusi besar baik dari pemerintah maupun masyarakat di Talaud. Pemerintah dan masyarakat sama-sama mempunyai peran untuk pemanfaatan limbah sabut kelapa. Kepada pemerintah sebaiknya memberikan arahan dan pendampingan tentang pemanfaatan limbah yang ada dilingkungan salah satunya limbah kopra. Akan lebih baik jika di Talaud mempunyai laboratorium biologi untuk mengetahui dan memonitoring kualitas lingkungan yang ada di Talaud, serta dapat menganalisis dan menanggulangi dampak limbah yang ada di Talaud. Diharapkan baik kepada pemerintah maupun masyarakat agar lebih sadar dan peduli akan lingkungan. Solusi ini merupakan salah satu tindakan untuk kita sadar akan potensi serta membangun kreatifitas yang ada di Kabupaten Talaud dengan tetap menjaga lingkungan dan memanfaatkannya untuk perekonomian. Dengan begitu, secara perlahan limbah sabut kelapa yang tidak dimanfaatkan dan menjadi masalah, dapat membawa nilai ekonomi dan menjadi berkah yang besar baik kepada masyarakat bahkan meningkatkan tingkat perekomian yang ada di Talaud.

Penulis

Untitled-2

Anggel Christia Dolonseda

Mahasiswa Fakultas Bioteknologi UKDW, Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here