Pemkab Minsel Rangkul Tokoh Agama, Bahas Penanganan Paham Radikalisme

0
487

agama-11

Amurang, Bunaken.co.id – Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan Senin, (21/11) melaksanakan dialog pengamanan paham radikalisme berlangsung di ruang rapat Wakil Bupati Minsel menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi yakni DR. Ferry Liando dan dipimpin Wakil Bupati Franky Donny Wongkar SH.

Pada dialog tersebut, Bupati Minsel Christiany Eugenia Paruntu SE yang diwakili Wabup Franky Donny Wongkar SH mengatakan, pemahaman-pemahaman yang tepat dari para tokoh di daerah, akan membantu menekan angka penyebaran paham radikalisme ini, terkait penyebab timbulnya radikalisme, wongkar menilai ada beberapa faktor Diantaranya timbul ketidakadilan terhadap situasi yang ada, dan faktor dislokasi sosial ekonomis dan ketidakmerataan pembangunan akhirnya menimbulkan ketidakpuasan.

“Jangan sampai hanya karena ketidak merataan pembangunan, memicu pemikiran yang radikal sehingga merusak tatanan di daerah.  butuh kerja keras dari kalangan masyarakat, sehingga dapat menjadi contoh Kabupaten/Kota yang ada di Sulut,” harap Wabup.

Sementara itu Ketua MUI Minsel Haji Ishak Ahmad  mengatakan, menolak keras radikalismes dengan mengatasnamakan agama islam menurutnya segala bentuk tindakan kekerasan yang mengatasnamakan dakwah dengan cara kekerasan bukan ciri Islam yang rahmatan lil ‘alamin

“Segala hal yang mengandung kekerasan sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan ajaran agama apa pun, oleh karenanya diperlukan penanganan khusus yang intensif dari berbagai pihak, para ulama dan pemimpin untuk bersatu padu melawan gerakan radikalisme ini,”ungkap Ishak

Oleh sebab itu ia mengajak seluruh umat Indonesia yang ada di  Sulawesi Utara untuk terus menggalang solidaritas kemanusiaan sekaligus menolak segala bentuk kekerasan mengatasnamakan agama.

Senada dikatakan Dosen Unsrat Ferry Liando bahwa cara menilai paham radikalisme dari perspektif akademik, salah satunya adalah ada potensi bahaya dalam negara, baik dalam kemajuan suatu negara maupun mengedepankan polemik keamanan, menurut pandangan akademik dikalangan masyarakat ada perbedaan antara radikalisme itu sendiri, harus ada pemahaman di masyarakat, Karena jika dikonteks akademik tidak boleh fanatik.

“Kalau di filsafat menggali ilmu, Sementara didalam radikalisme adalah ketika radikal ini dituangkan dalam bentuk paham ideologi dan merujuk pada kegiatan teror, itu yang jadi persoalan,dan merupakan bentuk dari paham radikal, semua hal yang berkaitan dengan radikal merupakan hal negatif dan di Indonesia ataupun di dunia lain paham radikal sudah bergeser dan bermuara pada aksi teror,” katanya.

Dalam Diakog ini, dihasilkan beberapa Kesepakatan diantaranya, Menolak Radikalisme, Menjaga dan memelihara 4 Pilar yakni Pancasila, NKRI, UUD dan Bhinneka Tunggal Ika, dan Menjaga Keamanan dan Kedamaian di Minsel.

Turut hadir FKUB/FKDM, para akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, BMI dan LMI.(effendyiskandar/st)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here